Detail Slideshow


MGEI CEO
Forum Pertambangan 2019

Jakarta – Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) mengadakan MGEI Annual CEO Forum 2019 di Fairmont Hotel, Jakarta yang mendatangkan para pimpinan perusahaan pertambangan (27/02/2019). Adapun peserta yang hadir terdiri dari berbagai CEO perusahaan pertambangan, asosiasi profesi, akademisi, praktisi geologi ekonomi, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan pers.

Acara yang dibuka oleh Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar membuktikan acara yang diusung oleh salah organisasi profesi ini sangat penting, dimana para CEO bisa memberikan sudut pandang dari masing-masing perusahaan yang mereka kelola. Pada CEO Forum kali ini, narasumber yang hadir diantaranya Ratih Armi (Direktur Mining and Mineral Industry Institute, grup PT. Inalum), Frans Kesuma (Presdir PT. Pama Persada Nusantara), Tony Wenas (Presdir PT. Freeport Indonesia), Suseno Kramadibrata (Direktur PT. Bumi Resources), dan Nicolas Kanter (Presdir PT. Vale Indonesia) yang dimoderatori oleh Adi Maryono (VP PT. J-Resources Nusantara) dan Sukmandaru Prihatmoko (Direktur Eksplorasi PT. SJR). Ulasan yang disampaikan bagaimana memberikan perspektif dari masing-masing perusahaan yang mereka pimpin.

Frans Kesuma (Presdir PT. Pama Persada Nusantara), mencoba untuk menjelaskan dimana awalnya Pama merupakan salah satu mining services yang terbentuk pada tahun 1993, kemudian perusahaan mencoba untuk selalu berinovasi dan berkembang menjadi “A Global energy dan Resources Company”. Hingga tahun 2019, Pama telah memiliki beberapa sektor usaha diantaranya Mining Contractor dan Business Sector, Coal Owner & Trading Business, Mineral Business Sector, Energy Business Sector, dan bisnis lainnya. Pada tahun 2019, Pama melalui PT. Danusa Tambang Nusantara telah membeli saham salah satu perusahaan tambang emas di Sumatera Utara yang terletak di martabe, yaitu Agincourt Resources sebesar US$ 917,9 juta dengan kepemilikan 95% saham. Dengan harga komoditi yang selalu fluktuatif, Pama tetap optimis untuk melakukan eksplorasi emas dalam mendapatkan cadangan baru yang ekonomis di beberapa lokasi seperti di Sumbawa melalui anak perusahaan PT. SJR, dan di Kazahktan. Hal utama yang dilakukan untuk bisa menekan budget dari kegiatan operasional perusahaan yaitu dengan lifetime equipment dimana dapat mengurangi biaya 30% dari operasional. Cara yang dilakukan adalah dengan memberikan manajemen sistem kepada operator-operator alat berat yang memiliki faktor besar dalam produksi, dimana sertifikasi dan standarisasi kemampuan kepada 30 ribu operator menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Baca juga “Resiliensi Pama dalam Menjalankan Gurita Bisnis Tambang Indonesia”

Ratih Amri yaitu Direktur Mining and Mineral Industry Institute (MMII) yang merupakan salah satu grup dari PT. Inalum, yang baru terbentuk pada awal Februari ini yaitu mencoba untuk membangun iklim pertambangan Indonesia menjadi lebih baik lagi. MMII berfokus kepada kajian yang berkaitan dengan hal teknis dan kebijakan, serta regulasi dalam pertambangan. Harapannya, dengan adanya MMII bisa membantu para perusahaan pertambangan untuk selalu memaksimalkan material bijih tambang melalui kajian riset strategis. MMII telah melakukan kerjasama dengan beberapa universitas lokal dan mancanegara, serta beberapa organisasi profesi untuk selalu bersinergi dalam riset dan pengembangan. Ratih menambahkan, selain melalukan proses holding perusahaan tambang, Inalum juga berfokus dalam aktivitas hulu hingga hilir tambang, dimana pada aktivitas hulu terbukti sedang melalukan kegiatan teknologi eksplorasi di berbagai wilayah seperti di Papua dan Sumbawa. Pada proses hilirisasi, Inalum sedang membangun gasification plant, cleaner energy resources, dan potential mineral downstream (smelter) di berbagai lokasi di Indonesia. Harapannya, iklim bisa terus terjaga dengan harga yang selalu fluktuatif.

 

Nicolas Kanter (Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk) dalam acara ini memaparkan bagaimana langkah strategis serta tantangan PT Vale Indonesia Tbk kedepan. Sejauh ini PT Vale Indonesia Tbk sedang fokus dalam pembangunan smelter dan kesempatan dibuka lebar untuk siapapun yang ingin bekerja sama dalam pembangunan tersebut. Biaya operasi smelter yang murah dengan kualitas yang baik dari perusahaan asal Cina juga membuat PT Vale Indonesia cukup melirik peluang tersebut. Selain itu juga PT Vale Tbk menghadapi beberapa rintangan seperti tingginya fluktuasi harga nikel dunia yang tinggi dalam setahun terakhir maupun adanya indikasi oversupply produksi nikel di Indonesia kedapannya nanti seiring banyaknya tambang-tambang nikel yang mulai beroprasi. Solusi yang dijalankan oleh PT Vale Indonesia Tbk adalah menjaga biaya produksi serta efisiensi perusahaan dan mencari peluang-peluang baru dalam pengembangan smelter Vale yang baru maupun existing dan rencana.

Presdir PT Freeport Indonesia (PTFI), Tony Wenas, menyampaikan pengembangan PTFI kedepan pasca diakuisisi oleh pemerintah Indonesia melalui PT Inalum sebagai Holding bidang pertambangan. Sejauh ini PTFI masih melakukan kordinasi-kordinasi pasca bergabung dengan Inalum seperti aset, manajemen, maupun outlook kedepan. PTFI juga sejauh ini memaparkan bahwa lebih fokus memaksimalkan cadangan yang sudah ada dibandingkan pengembangan sumberdaya kedepan. Untuk pengembangan kedepan perlu dikordinasikan langsung dengan Inalum dan Pemerintah karena pengembangan selanjutnya pasti pada fisilitas tambang bawah tanah. Tony menegaskan, untuk saat ini PTFI belum merencanakan eksplorasi diluar Tembagapura.

Direktur Bumi Resources Mineral (BRM), Suseno menjadi narasumber terakhir acara ini. Suseno menyampaikan, saat ini Bumi memiliki 3 (tiga) IUP yang berada di Sulawesi yaitu PT. Citra Palu Mineral dan PT. Gorontalo Mineral dengan komoditi emas dan tembaga, sedangkan 1 (satu) IUP nya berada di Sumatera Utara yaitu PT. Dairi Prima Mineral dengan komoditi lead dan zinc. Suseno menjelaskan, pada beberapa tahun terakhir ini memang BRM cenderung tidak berjalan dengan signifikan yaitu belum adanya produksi dari ketiga IUP yang ada, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan hal itu bisa terjadi. Kemudian Suseno optimis, pada tahun 2020, PT. Dairi Prima Mineral sudah bisa memproduksikan material bijihnya. Kemudian, salah satu peserta yaitu Bapak Abah dari Medco Internasional sempat bertanya kepada ketiga narasumber tentang mengatasi perizinan hutan yang bisa berlangsung hingga berpuluh tahun lamanya. Suseno mencoba menjawab, sebenarnya perusahaan tidak perlu merasa terlalu eksklusif dengan apa yang dilakukan. Perlu adanya pendekatan secara normatif dan un-normatif menyesuaikan berdasarkan kondisi yang ditemukan di lapangan (Tim Media – HUF)