Tahun 2021 Indonesia Target 31 Smelter Aktif: Cukupkah?



Jakarta - Pada tahun 2021, pemerintah menargetkan terdapat 31 smelter di Indonesia berproduksi untuk mengolah bahan mineral produksi yang ada. Mineral seperti nikel, besi, tembaga, bauksit, mangan, timbal, dan seng akan diolah pada salah satu dari ke-31 smelter ini. Pada pasalnya pada tiap smelter, smelter memiliki “kekhususan” untuk mengolah mineral – mineral tertentu.

Dilansir dari databoks.katadata.co.id (Berapa Jumlah Smelter Perusahan Tambang di Indonesia), dari 31 smelter yang direncanakan akan aktif di tahun 2021, setengahnya merupakan smelter nikel. Tepatnya sebanyak 17 smelter merupakaha smelter pengolah hasil tambang nikel. Diikuti dengan total 4 buah smelter untuk pengolahan besi. 2 buah untuk pengolahan tembaga, 2 buah untuk pengolahan bauksit, dan 2 buah untuk pengolahan mangan. Smelter untuk pengolahan timbal dan seng masih dalam proses perencanaan sejumlah 4 buah smelter.

Smelter – smelter di Indonesia tersebar dari Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sukabumi, Maluku Utara, Gresik, dan Pulau Obi

Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Mineral dan Batu Bara dalam cnbcindonesia.com (Mulai 2021, 31 Smelter Bakal Beroperasi di RI), terdapat 36 smelter sedang dalam tahap pembangunan.

Berdasarkan data dari Laporan Kinerja Kementrian Energi dan Sumber Daya Tahun 2018, pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian dalam negeri atau smelter yang sudah terealisasi 100% yaitu pada pembangunan oleh PT Bintang Smelter Indonesia dan PT Virtue Dragon.

Smelter – smelter ini sudah melakukan aktivitas pemurnian. PT Bintang Smelter Indonesia pada tahun 2018 sudah melakukan kegiatan uji coba produksi NPI dan menghasilkan NPI namun dengan kadar Ni yang masih di bawah target perencanaan. Berdasarkan data ESDM, PT Virtue Dragon telah beroperasi dengan rencana awal sebesar 200,000 ton FeNi, yang kemudian terealisasi sebesar 368,021 ton FeNi.

Terealisasinya smelter – smelter ini menambah semangat Indonesia dalam pengembangannya dalam produksi bahan tambang. Meningkatnya demand terhadap bahan tambang khususnya nikel, membuat aktivitas tambang di ke depan masih “hidup”.

Dengan adanya smelter di Indonesia diharapkan seluruh kegiatan produksi dapat terintegrasi dan “cukup” untuk bersaing dengan negara lain seperti China dan India.

(FPL)