Seminar dan Dialog Nasional



Palembang – Seminar dan Dialog Nasional tentang Pengelolaan Sumber Daya Alam di Era Revolusi Industri yang berlangsung di Palembang, Sumatera Selatan (12/02/2019) mengundang salah satu tokoh nasional yang sering muncul dibeberapa media cetak dan elektronik nasional maupun internasional, yaitu Menteri ESDM saat ini, Ignasius Jonan.

Menjadi Keynote Speaker dalam seminar yang diadakan oleh Perhimpunan Alumni PTN Se-Indonesia (HIMPUNI) pada Sesi II memberikan sudut pandang yang berbeda tentang energi dan pertambangan saat ini. Jonan menjelaskan beberapa poin utama dari pergerakan industri yang ada di Indonesia khususnya di bidang energi yang dihadiri lebih dari 1.600 peserta yang berasal dari mahasiswa/I, praktisi, perusahaan BUMN dan Swasta energi, pemerintah daerah, pemerintah pusat, kepolisian, TNI dan stake holders lainnya.

Pembahasan awal yang disampaikan oleh Jonan adalah, Pertamina berhasil melakukan kerjasama dengan salah satu perusahaan migas asal Itali yaitu ENI dalam riset dan pengembangan Crude Palm Oil (CPO) menjadi 100 % bio solar, yang akan diterapkan di Indonesia, dimana salah satu PLT di Itali telah berhasil melakukannya dengan Kapasitas 75 MW, yang memiliki konsumsi 135 ribu ton CPO per tahun. Dalam 2 – 3 tahun mendatang, harapannya Indonesia juga bisa melakukan hal yang sama dengan mengubah Kilang Plaju, Palembang untuk mengolah CPO 100%.

Di sisi lain dalam industri pertambangan, masih banyak masyarakat yang menanyakan kenapa Indonesia harus mengakuisisi Freeport, padahal tambang terbuka (Grasberg) pada tahun 2019 akan habis, dimana cadangan emas dan tembaga sudah tidak terlalu menjanjikan. Jonan menekankan, Revolusi Industri 4.0 saat ini sangat membutuhkan material hasil tambang dalam membangun peralatan-peralatan canggih, terbukti kebutuhkan akan tembaga, nikel, cobalt dan hasil tambang lainnya terus meningkat. Pada tahun 2008, empat dari sepuluh perusahaan yang memiliki valuasi paling tinggi berasal dari perusahaan energi. Tetapi pada tahun 2018, perusahaan ekstratif telah tergantikan dengan perusahaan-perusahaan teknologi. Hal tersebut membuktikan kebutuhan dari industri global telah berubah.

Pemerintah Indonesia melalui Kementrian ESDM sedang gencar mendorong penggunaan electricity vehicle (EV) untuk mengurangi kebutuhkan dari energi fosil dalam industri kendaraan. Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) sedang digodok, yang bertujuan untuk mendukung pembangunan manufaktur, membuat regulasi tentang insentif pajak selektif dan terukur (PPnBM dan Bea Masuk), akselerasi pembangunan SPLU dan Insentif non-fiskal.

EV erat kaitannya dengan material-material hasil tambang, dimana baterai dari kendaraan bermotor berasal dari hasil tambang. Kecenderungan dari kebutuhan sektor energi dan pertambangan pada beberapa tahun yang akan datang akan berubah drastis. Seperti halnya dalam pembuatan baterai dalam EV, material penyusunnya berasal dari campuran cobalt, nikel sulfida dan hidroksida. Belum ada komponen lain yang bisa menggantikan material pertambangan sebagai bahan utama tersebut.

Dalam penyampaian terakhirnya, Jonan menjelaskan, Saat ini dunia sebenarnya sedang mempersiapkan Society 5.0, dimana teknologi Artificial Intelligence (AI) sedang digunakan dalam semua lini termasuk industri ekstratif. Teknologi 5G sedang dipersiapkan untuk kegiatan eksplorasi baik dipertambangan ataupun migas, untuk mengurangi resiko kegagalan.

Pertanyaannya saat ini, Apakah Indonesia siap untuk bersaing dan mengejar ketertinggalan dari beberapa negara yang telah lebih dulu mempersiapkan revolusi industri 4.0?