Kemelut Kasus Korupsi PLTU Riau-1 Menjerat Bos PLN



Jakarta - Tertangkapnya direktur utama PLN (Persero), Sofyan Basir, menambah rentetan kasus korupsi yang dilakukan oleh aparat negara. Sofyan Basir ditetapkan sebagai tersangka terduga suap pembangunan PLTU Riau-1 dengan kapasitas 2x300 MW. Proyek ini dilansir dalam detik.com (Proyek PLTU Riau-1 yang Bikin Bos PLN Tersangka KPK) memiliki nilai proyek sebesar US$ 900 Juta Dolar atau sama dengan Rp 12,87 Triliun Rupiah (Kurs Rp 14.000/US$).

Dikutip dari katadata.co.id (Gantikan Sofyan Basir, Muhammad Ali Ditunjuk Sebagai Plt Dirut PLN), terhitung dari tanggal 25 April 2019, Muhammad Ali menggantikan Sofyan Basir sebagai Plt Direktur Utama PLN sementara selama 30 hari.

Dilansir dari Sekretaris Kementerian BUMN, Imam Apriyanto Putro, "Sesuai ketentuan Anggaran Dasar, Rapat Umum Pemegang Saham punya waktu 30 hari untuk melakukan proses (pengangkatan Direktur Utama PLN),".

PLTU Riau-1 merupakan salah satu bagian dari PLTU Mulut Tambang. Penamaan mulut tambang dikarenakan PLTU yang dibuat memiliki lokasi dekat dengan lokasi penambangan batubara. Diharapkan dengan adanya PLTU Mulut Tambang, pemerintah dapat memangkas biaya dan mengefisiensikan transport batubara ke PLTU.

Tidak hanya “Bos PLN”, Proyek PLTU Riau-1 telah menyeret Wakil Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Eni Maulani Saragih, salah satu pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited, Johannes Budisutrisno Kotjo, dan mantan Menteri Sosial RI, Idrus Marham. Kedua terdakwa telah divonis penjara masing – masing 6 tahun, 4.5 tahun, dan 3 tahun penjara

PLTU dibangun untuk kepentingan rakyat, kepentingan bersama. Maraknya kasus korupsi PLTU Riau-1 untuk memuaskan kepentingan sendiri telah “mengotorkan” tujuan dari pembangunan PLTU tersebut.

(FPL)