Forum


user image Forum di buka pada tanggal 2019-05-07

Jakarta – EV atau electrical vehicle merupakan konsep kendaraan dengan menggunakan sumber energi listrik. EV memiliki keunggulan daripada kendaraan berbahan bakar minyak dikarenakan EV mengeluarkan emisi yang jauh lebih sedikit dibanding kendaraan berbahan bakar fosil.

Kedepannya, pengembangan EV diharapkan dapat menggantikan kendaraan berbahan bakar fosil dan membuat isu lingkungan berkurang dengan konsep energi yang berkelanjutan.

Pengembangan EV sebagai pengganti mobil berbahan bakar fosil diprakasai secara tidak langsung dengan adanya Paris Agreement pada tahun 2015. Paris Agreement 2015 merupakan perjanjian antar negara di seluruh dunia yang dimana salah satu bunyinya sepakat untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan investasi terhadap teknologi karbon rendah. Negara – negara seperti United Kingdom, Rusia, Jepang, China, Indonesia, dll menandatangani perjanjian ini. Dengan penandatanganan ini, pengembangan EV merupakan salah satu poin utama untuk menerapkan hasil dari perjanjian ini.

Penggunaan komponen baterai dalam EV akan meningkatkan kebutuhan akan nikel sebagai salah satu komponen baterai. Secara tidak langsung, pengembangan EV akan memainkan peran besar untuk peningkatan aktivitas produksi nikel. Berdasarkan data Wood Mackenzie, dengan meningkatnya kebutuhan nikel, China telah membangun empat fasilitas nikel baru yang akan diimplementasikan pada produksi EV ke depan.

Pada tahun 2017, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), dimana salah satu isinya adalah pengembangan mobil listrik di Indonesia. Menurut antaranews.com (Indonesia Konsisten Ratifikasi Perjanjian Paris), Indonesia memiliki target untuk mengurangi emisi karbon sebesar 29% pada tahun 2029-2030. Dengan adanya peraturan tersebut dan pengembangan EV, kedepannya konsumsi nikel di negara Indonesia menjadi suatu hal yang amat penting.

Pemerintah Indonesia memiliki target untuk mempunyai 31 smelter aktif pada tahun 2021 dimana sebanyak 17 smelter merupakan smelter untuk memproses nikel. Pembuatan smelter ini merupakan langkah integrasi Indonesia dalam aktivitas pertambangan dan juga untuk mengefektifkan dan memaksimalkan hasil tambang pada proses hilir. Harapannya, dengan adanya keberadaan smelter, Indonesia dapat lebih mandiri dalam membuat komponen baterai yang akan semakin berkembang dan diminati pasar tambang di tahun – tahun mendatang.

Sudahkah, kita sebagai praktisi tambang memikirkan hal itu?

(FPL)


3 Tanggapan
481 View
Rating 1/10
user image Jawaban pada tanggal 2019-06-14

Semoga Indonesia lebih maju kedepannya dengan pemanfaatan hasil tambang nikel

user image Jawaban pada tanggal 2019-06-03

Smelter yg 17 itu untuk nikel kelas 2 yg produknya nikel dlm bentuk logam. Jadi msh blm mensupport kearah industri nikel kelas 1 yaitu baterai. Jd msh perlu didorong lg agar mulai masuk ke smelter nikel kelas 1.

user image Jawaban pada tanggal 2019-05-12

Sayangnya untuk support bahan baku battry yaitu cobalt pabriknya blm ada