Forum


user image Forum di buka pada tanggal 2019-09-04

duniatambang.co.id – Tragedi kecelakaan beruntun di KM 91 Tol Cipularang dari arah Bandung ke Jakarta menyisakan luka yang mendalam. Kecelakaan tersebut melibatkan kurang lebih 21 kendaraan. Kecelakaan yang menewaskan 8 penumpang itu terjadi sekitar pukul 12.30 WIB, Senin (02/09/2019).

Kronologi kecelakaan beruntun berawal dari kecelakaan tunggal dumpt truck yang terbalik. Ketika menunggu dump truck tersebut dievakuasi, beberapa kendaraan menunggu di belakangnya. Naas, dump truck dari arah belakang yang bermuatan pasir hilang kendali kemudian menabrak deretan kendaraan di depannya.

Kecelakaan dapat terjadi di mana saja, termasuk pada lokasi kerja tambang. Kecelakaan dapat terjadi karena beberapa sebab meliputi faktor pengemudi, kendaraan, jalan, dan lingkungan. Diketahui, Tol Cipularang KM 91 dengan keadaan kontur jalan yang menurun dan menikung.

Untuk menghindari kecelakaan di lokasi tambang, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.  Hal ini diatur dalam Keputusan Menteri ESDM RI Nomor 1827 K/30/MEM/2018 Tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan yang Baik. Berikut ini bagian-bagian Jalan Pertambangan yang perlu diperhatikan.

  1. Lebar jalan tambang mempertimbangkan alat angkut terbesar yang melintasi jalan tersebut paling sedikit tiga setengah kali lebar alat angkut terbesar untuk jalan tambang dengan dua arah. Dan dua kali lebar alat angkut terbesar untuk jalan tambang dengan satu arah.
  2. Pada setiap jalan tambang harus tersedia tanggul pengaman di sisi luar badan jalan dengan tinggi sekurang-kurangnya tiga perempat diameter roda kendaraan terbesar dan memperhitungkan potensi air limpasan dan material lepas yang dapat masuk ke jalan.
  3. Jika jalan tambang menggunakan tipe boxcut dapat disediakan tanggul.
  4. Jika kondisi jalan tambang menggunakan tipe boxcut dan berpotensi material lepas, harus dilakukan penguatan lereng.
  5. Memiliki sistem penyaliran yang mampu mengalirkan debit air.
  6. Sepanjang permukaan badan jalan tambang dibentuk kemiringan melintang (cross fall) paling kurang 2%.
  7. Kemiringan jalan tambang dibuat tidak boleh lebih 12% dengan memperhitungkan spesifikasi kemampuan alat angkut, jenis material jalan, fuel ratio penggunaan bahan bakar.
  8. Jika kemiringan jalan tambang lebih dari 12% dilakukan kajian teknis mencakup kajian risiko, spesifikasi teknis alat dan spesifikasi teknis jalan.
  9. Lebar, radius tikungan, dan super elevasi pada setiap jalan pertambangan yang menikung harus mampu menahan gaya dari setiap jenis kendaraan yang melintas dengan batasan kecepatan yang telah ditentukan
  10. Jalan pertambangan dilakukan pemeliharaan dan perawatan sehingga tidak menghambat kegiatan pengangkutan
  11. Daya dukung jalan pertambangan lebih kuat dari kapasitas terbesar beban kendaraan dan muatan yang melintas pada beban statis dalam kurun waktu tertentu berdasarkan kajian teknis.
  12. Pada setiap tikungan dan persimpangan jalan tambang dipasang pemisah jalur (separator) dengan tinggi paling kurang setengah diameter roda kendaraan terbesar dan lebar bagian atas paling kurang sama dengan lebar roda kendaraan terbesar;
  13. Sudut belokan pada pertigaan jalan tidak boleh kurang dari 70?.

 

Pengaturan Jalan Pertambangan ditujukan untuk kesehatan dan keselamatan kerja di lokasi tambang agar meminimalisir terjadinya kecelakaan tambang.

Baca Juga: Istilah Keselamatan Pertambangan yang Belum Banyak Diketahui, Baca Ini!

 

(MS)


0 Tanggapan
137 View
Rating 0/10

Belum ada jawaban untuk Forum ini

Silakan Login untuk memberikan jawaban.