Detail Berita


Perkembangan Proyek Hilirisasi Nasional, Emas dan Tembaga Lambat


"Pembakaran di furnace"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 02-06-2020

duniatambang.co.id - Beberapa waktu lalu, Bakrie Group menjalin kerjasama dengan perusahaan asal Amerika Serikat. Kerjasama itu merupakan proyek gasifikasi batubara dengan mengubah emas hitam tersebut menjadi metanol. Nilai proyek gasifikasi tersebut diketahui senilai 2,8 miliar dolar Amerika atau setara Rp 41,7 triliun.

Proyek gasifikasi batubara tersebut menjadi proyek hilirisasi pertama di Indonesia yang dikerjakan oleh perusahaan lokal yang berafiliasi dengan perusahaan kelas dunia dalam bidang gasifikasi batubara.

Baca juga: Menteri ESDM: Perkembangan Teknologi Hilirisasi Harus Digalakkan

Hilirisasi Batubara

Kerjasama gasifikasi batubara yang dilakukan oleh Bakrie Group dengan perusahaan asal Amerika Serikat itu, bisa dianggap sebagai perwujudan harapan presiden Jokowi dalam hal peningkatan nilai tambang melalui proyek hilirisasi. Nantinya proyek hilirisasi itu tidak hanya meningkatkan devisa, tetapi juga mengurangi ketergantungan impor yang selama ini jumlah cukup besar, termasuk ketergantungan pada mata uang Dolar Amerika.

Gasifikasi batubara sebagai bagian dari hilirisasi itu, juga untuk memenuhi amanat Undang-Undang nomor 4 tahun 2009, yang membahas mengenai Pertambangan Mineral dan Batubara. Dalam Undang-Undang itu juga diatur mengenai larangan ekspor bahan tambang mentah, seperti batubara dan nikel.

Sementara itu pada pasal 103 juga diatur bahwa para pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) wajib untuk melakukan pengolahan dan pemurnian hasil tambang mereka di dalam negeri. Dalam hal ini, proyek smelter menjadi sebuah keharusan yang wajib dipenuhi perusahaan tambang.

Hilirisasi Nikel

Lebih lanjut mengenai aturan hilirisasi yang ditetapkan pemerintah, untuk bahan tambang berupa Nikel juga sudah berjalan sejak tahun 2015 silam. Proyek hilirisasi untuk bahan tambang Nikel dikerjakan di kawasan Industri Morowali. Pengelolanya adalah investor kelas dunia asal Cina, yakni Tsingshan Group, perusahaan pionir dalam industri stainless steel.

Tsingshan Group telah membangun beragam industri pengolahan bahan tambang Nikel untuk kemudian diolah menjadi stainless steel hingga carbon steel. Nantinya produksi akan berujung pada industri energi terbarukan yakni, baterai lithium. Hingga saat ini, nilai proyek yang sudah terealisasikan mencapai Rp 91 triliun.

Pengolahan Nikel menjadi energi terbarukan yakni, baterai lithium juga sedang dikerjakan di kawasan Konawe. Adalah PT Virtue Dragon Nickel Industry yang mengelola lahan industri baterai lithium dengan luas mencapai 500 hektar dengan nilai investasi mencapai Rp 12,8 triliun. Selain itu juga ada PT Obsidian Stainless Steel (OSS) yang membangun industri stainless steel dengan nilai investasi mencapai Rp 29,8 triliun.

Bagaimana dengan Emas dan Tembaga?

Sejauh ini, Nikel dan Batubara menjadi pelopor hilirisasi hasil tambang nasional. Sementara untuk komoditas lain seperti emas dan tembaga, masih dalam tahap awal operasional dan belum terealisasi hasilnya.

 

PT Freeport yang digadang-gadang berperan besar dalam hilirisasi emas dan tembaga, saat ini masih dalam proses penggalian dan proses pemurnian tanah galian yang mengandung mineral. Proyek smelternya pun sedang tahap pembangunan dan belum bisa dioperasikan dalam waktu dekat. Terlebih telah terjadi penundaan pengerjaan proyek smelter, akibat wabah pandemi yang menyerang.

Pemerintah pun terus mendesak perusahaan yang mengelola tambang emas dan tembaga seperti Freeport dan Newmont untuk segera merealisasikan proyek hilirisasi yang sudah dicanangkan pemerintah. Sebab, dengan cadangan mineral yang sudah diketahui cukup tinggi, justru lebih lambat dari batubara dan nikel.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor    : Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !