Detail Berita


Prospek 4 Emiten Batubara Sembari Menunggu Kepastian Perpanjangan PKP2B


"Coal Mining"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 29-05-2020

duniatambang.co.id - Pengesahan Revisi Undang-Undang Nomor 4 yang mengatur tentang pertambangan Mineral dan Batubara adalah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh sejumlah perusahaan tambang batubara. Pasalnya, ada aturan yang akan sangat berdampak pada keberlangsungan operasional perusahaan. Aturan tersebut adalah masa izin PKP2B yang akan berakhir dalam waktu dekat.

Baca juga: Revisi UU Minerba Kini Menunggu Tanda Tangan Jokowi

Setidaknya ada empat perusahaan batubara dengan nama besar yang saat ini sedang menanti pengesahan UU tersebut. Keempat perusahaan itu antara lain, Arutmin Indonesia, Kaltim Prima Coal, Kideco Jaya Agung dan juga Adaro Energy. Lalu sejauh mana kinerja keempat perusahaan tersebut selama ini dan kaitannya dengan izin yang akan habis?

PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal

PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal merupakan anak usaha dari PT Bumi Resources yang bergerak dalam bidang pertambangan batubara. Keduanya adalah perusahaan yang mengantongi izin Perjanjian Kontrak Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B), yang akan berakhir masa berlakunya dalam waktu dekat.

PT Arutmin Indonesia memiliki izin PKP2B yang akan berakhir pada November 2020, sementara Kaltim Prima Coal izin PKP2B-nya akan berakhir pada Desember 2021 mendatang. Sejauh ini, kedua perusahaan itu telah menyumbang ekspor cukup besar dalam perdagangan batubara Nasional.

Dalam beberapa periode terakhir, kedua perusahaan itu baik PT Arutmin Indonesia dan juga PT Kaltim Prima Coal sama-sama mencatatkan peningkatan produksi yang konsisten. Dalam proyeksi kedepan, PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal, keduanya memiliki potensi yang cukup cerah.

Sebab, Bumi Resources selaku induk usaha sedang mengerjakan gasifikasi batubara menjadi metanol, bekerja sama dengan perusahaan asal Amerika Serikat. Kedua perusahaan itu, nantinya akan menjadi pemasok utama kebutuhan batubara sebagai bahan dasar produksi.

PT Kideco Jaya Agung

Anak usaha dari PT Indika Energy ini juga tengah menunggu pengesahan UU Minerba. Sebab masa izin PKP2B Kideco Jaya Agung akan berakhir pada 13 Maret 2023 mendatang. Perusahaan yang sudah berdiri sejak tahun 1982 silam itu, saat ini memiliki luas konsesi tambang sebesar 47.500 hektar yang berlokasi di wilayah Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.

Jika melihat kinerja perusahaan pada kuartal pertama tahun 2020 ini, catatan positif berhasil dibubuhkan oleh Kideco Jaya Agung dengan peningkatan produksi batubara mencapai 6,02 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Pihaknya pun menaruh harapan besar pada revisi UU Minerba. Pasalnya untuk produksi tahun ini Kideco Jaya Agung menargetkan 29,65 juta ton batubara. Terlebih di tengah kondisi global yang sedang terdampak pandemi, pihaknya terus berupaya menjaga kinerja positif dengan melakukan efisiensi biaya.

PT Adaro Energy

Sementara itu PT Adaro Energy yang masa izin PKP2B-nya berakhir pada Oktober 2022 nanti, juga mengharapkan kepastian perpanjangan kontrak dari pemerintah. Meski demikian, pihak perusahaan terus berfokus pada peningkatan kinerja produksi, dan menjamin jika operasional perusahaan saat ini berjalan dengan lancar.

Produksi batubara PT Adaro Energy pada kuartal pertama tahun 2020 ini juga mengalami peningkatan. Jumlah peningkatan produksi itu diketahui sebesar 4 persen, dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Peningkatan juga terjadi pada sisi penjualan batubara, yang mengalami kenaikan sebesar 5 persen menjadi 13,77 juta ton.

Selama masa pandemi ini, pihaknya terus berkomitmen untuk menjaga tren positif dalam profitabilitas perusahaan. Oleh karenanya, menjaga keselamatan dan kesehatan para karyawan menjadi fokus utama agar produksi bisa tetap berjalan normal.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor   : Umar RP.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !