Detail Berita


Pneumoconiosis, Penyakit Rentan Pekerja Tambang



Tanggal terbit: 29-05-2019

duniatambang.co.id - Bekerja di perusahaan pertambangan menjadi idola bagi sebagian orang. Dengan rumenerasi yang fantastis, rekrutmen karyawan perusahaan tambang selalu ditunggu-tunggu. Ditambah lagi dengan tunjangan, bonus, asuransi, dan lain-lainnya semakin membuat perusahaan tambang menjadi incaran bagi para pencari kerja. Oleh sebab itu, perguruan tinggi yang terdapat jurusan-jurusan yang relevan dengan dunia kerja di pertambangan ini menjadi rebutan bagi siswa-siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Dibalik gaji yang menjanjikan, bekerja di lokasi tambang memiliki beberapa sisi kekurangan, seperti pekerja tambang menderita penyakit yang cukup serius. Dari data International Labour Organization (ILO) menyebutkan bahwa setiap tahun terdapat 2,3 juta pekerja yang hilang nyawa akibat kerja maupun kecelakaan. Sementara itu, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menyebut dari 1 juta kematian pada pekerja, 5% di antaranya disebabkan oleh pneumoconiosis.

 

ILO mendefinisikan bahwa Pneumoconisosis adalah suatu kelainan yang terjadi akibat adanya penumpukan debu di dalam paru-paru yang menyebabkan reaksi jaringan terhadap debu tersebut.  Pneumoconiosis disebabkan oleh masuknya debu mineral, batubara, silika, timah, asbestos ke dalam paru-paru. Gejala yang ditimbulkan apabila terkena pneumoconiosis ini seperti batuk dan sesak napas.

Bekerja di lokasi tambang menyebabkan para pekerja terpapar langsung dengan debu akibat penambangan sehinggga sangat memungkinkan menderita penyakit pneumoconiosis. Berdasarkan data dari depkes.go.id pada 13 November 2015, sebuah penelitian menunjukkan bahwa sekitar 9% pekerja tambang batubara di Indonesia menderita pneumoconiosis. Sementara penelitian yang di lakukan oleh Kasmara tahun 1998 bahwa sebanyak 1,7% dari pekerja semen menderita pneumoconiosis yang ditulis dalam artikel penelitian Simanjutak, dkk. (2015).

Menurut safetysgin.co.id pada Senin (28/03/16), faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko pneumoconiosis adalah sebagai berikut.

  1. Usia pekerja saat terkena paparan debu batubara pertama kali
  2. Lama waktu berada di tempat kerja
  3. Usia batubara menentukan risiko terjadinya pneumoconiosis
  4. Pekerja merupakan perokok aktif
  5. Ukuran debu

Penelitian yang telah dilakukan oleh Simanjuntak, dkk. (2015), menghasilkan bahwa benar adanya terdapat hubungan kadar debu, masa kerja, dan merokok terhadap timbulnya penyakit pneumoconisosis. Namun, masa kerja menjadi faktor yang paling dominan yang menyebabkan penyakit ini.

Untuk mengantisipasi penyakit pneumoconiosis pada pekerja tambang, diperlukan adanya kegiatan preventif. Adapun kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.

  1. Dinas Kesehatan dapat melakukan pemeriksaan kadar debu secara berkala dan memberikan penyuluhan tentang penyakit saluran pernapasan dan cara pencegahannya.
  2. Perusahaan dapat melakukan pemeriksaan debu secara berkala di lingkungan kerja tambang dan kadar debu pada setiap pekerja tambang.
  3. Pekerja tambang selalu memakai APD (Alat Pelindung Diri) secara lengkap dan menghentikan kebiasaan merokok.

Selain risiko penyakit yang dapat ditimbulkan, pekerja tambang harus mewaspadai risiko-risiko kecelakaan yang mungkin dapat terjadi karena industri pertambangan terkenal dengan high risk sehingga kecelakaan di lokasi tambang dapat diminimalisir.

Penulis : Mayang Sari

Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !