Detail Berita


Cerita Indocement Sulap Bekas Galian Tambang Jadi Karamba Untuk Bantu Ekonomi Warga


"Pabrik PT Indocement Tunggal Perkasa"
Sumber gambar: indocement.co.id


Tanggal terbit: 24-05-2020

duniatambang.co.id - Berbagai upaya terus dilakukan sejumlah perusahaan tambang, di tengah tekanan akibat wabah pandemi Covid19. Tak hanya upaya antisipasi dan pencegahan penyebaran virus semata, namun juga agar kinerja perusahaan tetap terjaga. Begitu juga dengan apa yang dilakukan oleh PT Indocement Tunggal Prakarsa.

Indocement tidak hanya menjaga kinerja perusahaan tetap berjalan, namun juga turut memperhatikan kondisi yang terjadi pada masyarakat sekitar tambang. Perusahaan juga turut memahami kondisi masyarakat sekitar tambang, di tengah situasi serba sulit seperti ini. Sebagai bentuk kepedulian dan bagian perwujudan dari tanggung jawab CSR, Indocement membuat program untuk membantu masyarakat sekitar.

Pihaknya mengadakan pelatihan gratis tentang budidaya ikan nila yang memiliki nilai ekonomis, kepada masyarakat sekitar tambang. Mereka memanfaatkan lubang-lubang bekas galian tambang yang disulap menjadi keramba apung, untuk budidaya ikan lele. Tak hanya menyediakan lahan, Indocement juga memberikan bantuan bibit ikan sebanyak 12.000 ekor.

Indocement berharap, dengan adanya bantuan pelatihan serta modal untuk budidaya ikan ini, ekonomi masyarakat sekitar yang terkena dampak dari pandemi, bisa kembali terangkat. Uji coba dari pelatihan hasil budidaya ikan yang digelar di lahan bekas tambang Desa Serongga, Kecamatan Kelumpang Hilir, Kabupaten Kotabaru itu terbilang sukses.

Kegiatan tersebut dimulai dengan pelatihan yang berisi materi mengenai cara budidaya ikan nila. Mulai dari membuat lahan budidaya yang di mana dilakukan dengan memanfaatkan galian bekas tambang, pengelolaan keramba meliputi kualitas air dan pakan, kemudian pemilihan bibit dan pemeliharaan, hingga akhirnya ikan-ikan nila itu siap untuk dipanen. Hasil yang didapat dari budidaya itu bisa dibilang cukup sukses. Karena dari total 12.000 benih yang dibudidayakan, angka kematiannya hanya 5%.

Para petambak yang mengikuti program ini pun merasa senang, karena ekonomi mereka bisa kembali bergerak. Terlebih, mereka mendapatkan ilmu baru dengan memanfaatkan lubang bekas galian tambang sebagai keramba, karena tentunya biaya untuk penyediaan lahan jadi sangat murah. Mereka hanya menyediakan bambu dan kayu yang bisa diperoleh tak jauh dari tempat tinggal, serta pengawasan juga tidak terlalu repot karena lokasinya sangat dekat dengan rumah mereka.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor   : Faris Primayudha

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !