Detail Berita


Bottom Ash dari Batubara Sebagai Campuran Bahan Konstruksi Solusi Atasi Pencemaran Lingkungan



Tanggal terbit: 22-05-2019

Produksi batubara di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Penggunaan batubara sebagai sumber energi pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) paling diminati karena ketersediaan batubara yang melimpah di Indonesia dan juga dipengaruhi oleh biaya operasional yang relatif lebih rendah dibandingkan sumber energi lainnya.  Pembangunan proyek nasional PLTU di Indonesia pun semakin menyebar di beberapa titik di Indonesia. Semakin banyaknya PLTU yang dibangun, kebutuhan produksi batubara semakin meningkat.  Tekmira (2010), menyebutkan bahwa proses konversi batubara menjadi energi di PLTU menghasilkan abu hasil pembakaran sebanyak 8-10% yang terdiri atas abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash). Fly ash adalah abu yang dihasilkan pada saat pembakaran batubara yang terbawa terbang ke udara. Sedangkan bottom ash adalah abu yang dihasilkan pada saat pembakaran batubara yang mengendap. Abu batubara ini apabila pengelolaanya tidak dilakukan dengan baik akan menyebabkan pencemaran lingkungan dan mengganggu masyarakat sekitar. Abu batubara ini memerlukan tempat penampungan yang luas dan aman dengan biaya penanganan yang cukup tinggi.

Di sisi lain, proyek pembangunan infrastruktur mulai dari jalan, jembatan, gedung juga semakin meningkat sepanjang tahun ke tahun. Hal ini tentu membutuhkan material bahan konstruksi yang semakin banyak. Salah satu bahan konstruksi yang paling utama yaitu beton. Beton merupakan material buatan yang terdiri dari beberapa campuran semen, air, agregat kasar, agregat halus, dan zat aditif lainnya jika diperlukan. Material-material ini kemudian dicampur dan diaduk dengan komposisi dan rasio tertentu untuk mendapatkan beton dengan sifat yang diinginkan.

Di Indonesia pemanfaatan bottom ash sebagai material konstruksi belum maksimal. Bottom ash mempunyai sifat pozzolan  yang cocok apabila digunakan dalam pembuatan beton. Beton yang menggunakan bottom ash sebagai campuran agregat halus hasilnya lebih stabil dan memiliki ketahanan terhadap penetrasi ion klorida daripada beton tanpa bottom ash (Sing dan Siddique, 2015). Komposisi kimia bottom ash hampir sama dengan komposisi kimia semen. Menindaklanjuti hal tersebut, perlunya dilakukan penelitian untuk mengetahui apakah bottom ash bisa digunakan sebagai campuran bahan konstruksi sehingga bisa berperan mengurangi pencemaran lingkungan.

Wardhana, dkk (2001), melakukan penelitian mengenai studi abu dasar batubara yang digunakan sebagai campuran beton untuk bahan konstruksi. Pada penelitian tersebut, bottom ash berfungsi sebagai campuran agregat halus. Penelitian ini dilakukan dengan metode DOE dengan pembuatan job mix dengan komposisi semen, kerikil, pasir, air, dan bottom ash.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dengan ditambahkannya bottom ash sebagai campuran pada agregat halus, dapat mengurangi berat beton. Hal ini menyebabkan beban yang harus dipikul oleh fondasi menjadi lebih ringan. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan kekuatan tekan beton dengan menggunakan bottom ash pada komposisi 17,5% dari berat normal pasir yang digunakan.

Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Qomarruddin, dkk. (2018), tentang kajian penggunaan bottom ash sebagai mortar beton. Mortar adalah adukan yang terdiri dari pasir, bahan perekat, dan air. Pada penelitian ini, bottom ash digunakan untuk mengurangi komposisi pasir. Hasil dari penelitian ini adalah dari hari ke hari kuat tekan mortar mengalami peningkatan, dari 7 hari sampai 28 hari mengalami peningkatan kenaikan yang cukup signifikan.

Dengan adanya penelitian-penelitian yang telah dilakukan, diharapkan bottom ash sebagai limbah dari pembakaran batubara ini dapat digunakan secara maksimal sebagai campuran dalam produksi bahan kontruksi sehingga dapat menjadi solusi pengurangan limbah dan mengatasi masalah pencemaran lingkungan.

MS

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !