Detail Berita


Dukung Penggunaan Energi Terbarukan, Bank Jepang Stop Pendanaan Proyek Batubara


"Renewable Energy"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 29-04-2020

duniatambang.co.id - Komitmen Bank Jepang untuk Kerjasama Internasional (JBIC) dalam mendukung pemanfaatan energi terbarukan akhirnya dipenuhi. Melalui Presiden JBIC Tadashi Maeda, pihaknya mengeluarkan pernyataan untuk tidak lagi memberikan pendanaan untuk proyek PLTU Batubara yang ada di Indonesia.

Pihaknya menyebut jika Indonesia saat ini tengah berupaya mendorong pemanfaatan energi terbarukan. Namun sayangnya hal itu belum bisa maksimal, sebab energi tersebut sangat bergantung pada kondisi cuaca yang ada. Lebih lanjut, pihaknya pun menawarkan penggunaan pembangkit listrik termal LNG. Sebab menurut mereka, pembangkit listrik termal LNG itu jauh lebih sedikit karbon dioksidanya dibandingkan batubara.

Keputusan untuk menghentikan pendanaan proyek batubara itu dikeluarkan setelah sebelumnya juga dilakukan oleh dua perusahaan pembiayaan raksasa Jepang. Perusahaan yang dimaksud adalah SMFG dan Mizuho.

Beberapa waktu yang lalu, Mizuho memang telah mengeluarkan keputusan untuk mengurangi jumlah saldo kredit senilai 2,8 miliar dolar Amerika kepada proyek pembangkit listrik berbahan bakar batubara untuk tahun 2030. Selanjutnya pihaknya akan menghentikan secara total pembiayaan itu pada tahun 2050.

Sementara itu, setelah Mizuho mengeluarkan pernyataan penghentian pendanaan itu, adalah Sumitomo Mitsui Financial Group Inc (SMFG) yang mengikuti langkahnya. Diberitakan pada 16 April yang lalu, pihaknya juga tidak akan mengeluarkan pinjaman lagi terhadap proyek-proyek batubara terhitung mulai tanggal 1 Mei 2020.

Dari catatan yang ada, JBIC memang sebelumnya memberikan pendanaan khusus terhadap sejumlah proyek pembangkit listrik bertenaga batubara di Indonesia. Proyek-proyek yang dimaksud antara lain, PLTU Cirebon 2 yang berkapasitas 1000 MW, PLTU Tanjung Jati B yang berkapasitas 2x1000 MW, kemudian ada PLTU Kalselteng 2 yang berkapasitas 2x100 MW dan juga PLTU Batang yang memiliki kapasitas sebesar 2x1000 MW.

Sementara itu, pihak Greenpeace SEA selaku Koordinator Regional Pengkampanye Iklim dan Energi, memberikan tanggapan terkait kabar ini. Menurutnya, JIBC seharusnya juga harus tidak begitu beralih pada ke pembangkit listrik LNG. Pasalnya kebijakan yang dikeluarkan itu malah menghambat proses peralihan pemanfaatan energi. Pihaknya pun juga meminta pemerintah Indonesia untuk membuat kebijakan baru untuk memberikan dukungan pada rencana pemanfaatan energi bersih serta terbarukan ini.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor    : Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !