Detail Berita


Ini Alasan Naiknya Saham Perusahaan Batubara di Saat Harga Komoditas Anjlok


"Ilustrasi pergerakan harga saham"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 27-04-2020

duniatambang.co.id - Harga untuk komoditas batubara pada perdagangan Rabu (22 April), terkoreksi semakin merosot hingga berada pada angka 51,50 dolar Amerika per tonnya. Ini adalah harga paling rendah yang pernah dialami sejak empat tahun terakhir, tepatnya pada perdagangan pada 19 Mei 2016 silam. Saat itu, harga batubara mencapai harga 51,30 dolar Amerika per ton. Sejumlah pakar pun menganalisa, harga batubara belum bisa menunjukkan tanda-tanda bangkit dari keterpurukan hingga empat tahun ke depan. 

Penyebab dari anjloknya harga batubara dalam beberapa perdagangan terakhir diakibatkan oleh sejumlah faktor. Jebloknya harga minyak dunia rupanya ikut menyeret turunnya harga batubara. Selama ini batubara dianggap sebagai sumber energi pengganti dari minyak, sehingga ketika harga minyak jatuh, hampir seluruh harga komoditas lain ikut terseret. Kemudian harga gas alam di pasaran Eropa yang mengalami penurunan juga ikut berimbas pada harga batubara. Terlebih di tengah kondisi dunia yang sedang diserang pandemi.

Namun rupanya meski harga komoditas batubara berada pada titik yang rendah, sejumlah saham emiten batubara justru mengalami kenaikan harga. Pada perdagangan terakhir, Kamis (23 April) kemarin saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menguat sebanyak 40 poin dan berada pada angka Rp 1.895. Jumlah ini mengalami kenaikan sebesar 2,2 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Lalu ada saham milik PT Adaro Energy Tbk (ADRO) yang mengalami penguatan sebesar 2,8 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya, yakni berada pada level Rp 910.

Sementara saham PT Indika Energy Tbk (INDY) pada perdagangan terakhir berada pada level Rp 750, menguat sebesar 35 poin atau 4,9 persen dibandingkan sebelumnya. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) juga ikutan mengalami kenaikan saham sebesar 100 poin atau 1,4 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya, dan berada pada level Rp 7.000.

Sejumlah analis menyebutkan, jika penguatan saham di tengah kondisi harga batubara yang terpuruk itu disebabkan oleh sentimen pasar. Para pelaku pasar optimis dengan jatuhnya harga minyak dunia, memang turut menyeret jatuhnya harga batubara. Namun pastinya, hal tersebut akan memicu penyesuaian dan kestabilan harga. Sehingga harga minyak bisa kembali stabil yang kemudian juga akan menghilangkan ketakutan pasar dan mengerek kembali harga batubara.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor   : Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !