Detail Berita


Batubara Terkoreksi Lagi, Level Terendah Empat Tahun Terakhir


"Coal Mining"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 23-04-2020

duniatambang.co.id - Batubara kembali mencetak rekor, harga komoditas emas hitam ini lagi-lagi harus semakin tertekan. Sebelumnya batubara memang sudah berada dibawah level US$ 60/ton dan terendah sejak Juli 2016 lalu.

Batubara kembali terkoreksi dan terus memperbarui rekornya. Pada Selasa (21/4) harga batubara kontrak futures secara persentase anjlok 5,02% sehingga berada di level US$ 52,05/ton. Angka ini menjadi level terendah sejak 25 Mei 2016. Lalu pada Rabu (22/4), harga batubara Newcastle kontrak pengiriman Mei 2020 ditutup di level US$ 51,50 per ton.  Hal ini membuat batubara semakin dibayangi kesuraman.

Terkoreksinya harga batubara ini mengekor anjloknya harga minyak mentah kontrak WTI pada Senin (21/4) yang justru harus amblas hingga 300% sehingga harus berada di zona negatif. Pergerakan harga minyak mentah ini juga turut menjadi sentimen negatif bagi batubara.

Selain terseret harga minyak mentah, batubara semakin tertekan ketika harga gas alam di Eropa justru mengalami penurunan. Sentimen lainnya yang masih menyelimuti batubara adalah turunnya permintaan batubara, membuat komoditas emas hitam ini terancam oversupply. Negara-negara yang menjadi importir batubara seperti China, Korea Selatan dan Jepang juga tercatat mengalami penurunan impor.

Dalam tiga pekan terakhir bulan April impor batubara China tercatat sebanyak 12,2 juta ton, turun sebesar 1,5 juta ton dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Jepang sepanjang tiga pekan terakhir April tercatat mengimpor batubara sebesar 8,5 juta ton, turun sebesar 1,2 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Begitupula dengan Korea Selatan yang tercatat mengimpor batubara sebesar 4,7 juta ton, turun sebesar 2,8 juta ton dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenyataan ini membuat masa depan batubara masih diproyeksikan akan suram. Terlebih lagi jika pandemi corona atau covid-19 masih berlangsung lama kedepan, kenyataan ini diproyeksikan akan semakin menekan pertumbuhan ekonomi dunia. Dunia pun masih dibayangi resesi, sejumlah komoditas pun diproyeksikan ikut tertekan.

 

Penulis : Lia Ade Putri

Editor   : Hazred Umar Fathan

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !