Detail Berita


Bukan Pergerakan Rupiah, Ini Tantangan Yang Dihadapi INDY dan ADARO


"Coal Mining"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 20-04-2020

duniatambang.co.id - Laporan keuangan beberapa hari terakhir ini mencatatkan nilai mata uang Rupiah mengalami pergerakan yang cukup besar terhadap mata uang dolar Amerika. Nilai kurs Rupiah mencapai angka Rp 17.000 per dolar Amerika. Meski Rupiah mengalami tekanan cukup tinggi, hal ini tidak memberikan dampak terlalu besar terhadap kinerja emiten batubara, PT Indika Energy Tbk (INDY).

PT Indika Energy Tbk mengaku tidak terlalu khawatir atas pergerakan nilai mata uang Rupiah tersebut. Pihaknya mengatakan bahwa nilai utang selama ini menggunakan mata uang dolar Amerika.

Tak hanya utang, pendapatan perusahaan sebagian besar juga menggunakan denominasi dolar Amerika dibanding Rupiah. Sehingga ketika terjadi fluktuasi terhadap mata uang Rupiah, perusahaan tidak terlalu menerima dampak negatifnya. Meski demikian, untuk pembayaran pembiayaan perusahaan, INDY mengaku masih menggunakan mata uang Rupiah. Pembiayaan tersebut dikeluarkan untuk pembayaran kontraktor serta utang.

Dalam hal ini bisa diartikan perusahaan telah mengalami natural hedge tanpa perlu mengeluarkan kebijakan khusus. Sehingga perusahaan tidak lagi memerlukan hedging atas paparan pergerakan mata uang asing.

Adaro Juga Mengalami Natural Hedging

Natural hedging ini ternyata juga dialami oleh PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Selama ini PT Adaro Energy memang terus mengupayakan agar kinerja perusahaan aman dari paparan fluktuasi nilai mata uang. Seperti halnya PT INDI, untuk pembiayaan dan utang PT Adaro juga menggunakan mata uang dolar Amerika. Seperti yang ada dalam catatan perusahaan, saat ini nilai utang bersih PT Adaro Energy mencapai 375 dolar Amerika.

Tantangan Terbesar Perusahaan

Pihak PT Indika Energy menjelaskan, justru tantangan yang paling besar dihadapi perusahaan adalah turunnya harga komoditas batubara yang belum menunjukkan tanda-tanda mengarah ke angka positif. Seperti yang diketahui, harga batubara di pasar IEC Newcastle Kamis lalu, (09/04) adalah yang terendah sejak September 2016 silam.

Sementara bagi PT Adaro Energy, meski harga batubara terus mengalami penurunan, perusahaan akan terus melanjutkan kegiatan eksplorasi seperti yang sudah direncanakan. Langkah yang akan diambil perusahaan adalah dengan melakukan sejumlah efisiensi di beberapa lini bisnisnya.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor    : Ocky PR

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !