Detail Berita


Produksi Batubara Naik: Umur Batubara Masih Panjang



Jakarta - Berdasarkan laporan kinerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam Indonesia tahun 2018, terlihat trend dari tahun 2016 sampai 2018, terjadi peningkatan produksi batubara. Peningkatan ini melebihi target yang telah diterapkan pada tahun – tahun tersebut. Contoh pada tahun 2016, ESDM memiliki target produksi sebesar 419 juta ton tetapi realisasinya produksi dapat menginjak angka 456 juta ton.

Sampai pada akhir tahun 2018, realisasi produksi batubara naik sampai pada angka 548 juta ton dengan target sebelumnya 462 juta ton. Kenaikan ini menginjak angka produksi sebesar 113%.

Adapun rincian realisasi produksi batubara yang dikategorikan berdasarkan Badan Usaha seperti Perjanjian Karya Pengusaha Pertambangan Batubara (PKP2B), IUM BUMN, IUP PMA, dan IUP Daerah.  PKP2B menyumbang 296 juta ton realisasi produksi batubara tahun 2018. Sedangkan, produksi batubara yang lebih sedikit disumbang oleh IUP BUMN dan IUP PMA.

Kenaikan realisasi produksi batubara pada tahun 2018 sebesar 113% atau 548 juta ton disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:

1. Dibukanya peluang peningkatan produksi batubara nasional hingga mencapai 100 juta ton bagi perusahaan yang telah memenuhi kewajiban Domestic Market       Obligation (DMO) untuk meningkatkan pendapat devisa negara.

2. Realisasi produksi batubara daerah yang melebihi target

3. Harga batubara yang relatif tinggi dan stabil sepanjang tahun 2018, sehingga IUP yang sebelumnya tidak berproduksi kembali melakukan kegiatan penambangan.

Pada tahun 2018, realisasi DMO batubara sebanyak 115 juta ton atau 21% terhadap produksi batubara lebih rendah dibandingkan dengan target awal sebesar 32%. Hasil tersebut berdasarkan perbandingan penyaluran batubara ke konsumen domestik terhadap realisasi produksi batubara tahun 2018.

Berdasarkan Kepmen ESDM 23K/30/MEM/2018 tentang persentase minimal penjualan batubara untuk kepentingan dalam negeri tahun 2018, rencana pasokan batubara untuk domestik ditetapkan sebesar 25% atau 121 juta ton dari target batubara nasional yaitu 485 juta ton.

Pada realisasinya, DMO batubara pada tahun 2018 hanya sebesar 115 juta atau 95% dari target volume DMO 2018. Berdasarkan data ESDM, PLTU merupakan konsumen batubara DMO terbesar pada tahun 2018 dengan menginjak angka 91.14 juta ton, diikuti pada urutan kedua oleh semen yang mengkonsumsi sebesar 14.86 juta ton.

Dari hal tersebut terlihat terdapat penurunan realisisasi DMO batubara dibandingkan dengan target DMO yang sudah ditetapkan untuk produksi tahun 2018. Penurunan ini terjadi akibat perubahan penyerapan batubara.

Adapun beberapa faktor yang menyebabkan penurunan ini, yaitu:

1. Realisasi pemenuhan DMO tidak sesuai kontrak antara Penyedia dan Pengguna Akhir, salah satunya dikarenakan terdapat maintenance pembangkit yang menyebabkan realisasi pasokan batubara lebih kecil dari kontrak yang telah disepakati

2. Penggunaan batubara untuk industri semen mengalami penurunan

3. Adanya bencana alam yang membuat produksi PLTU terganggu

4. Perusahaan tambang skala kecil keuslitan mendapatkan kerjasama jual beli batubara untuk dapat memenuhi kebutuhan/permintaan oleh pembangkit lainnya

Melihat trend laporan kinerja ESDM tahun 2018 khususnya pada produksi batubara menunjukkan trend yang cukup konsisten naik pada setiap tahunnya dengan konsumen terbesar oleh PLTU.

Hal ini menunjukkan bahwa batubara masih menjadi primadona untuk kebutuhan penduduk Indonesia khususnya pada listrik/ penerangan dan akan masih berjalan seiring waktu sampai alternatif lebih baik muncul dikedepannya.

(FPL)