Detail Berita


Dunia Dibayangi Pandemi dan Resesi, Batubara Anjlok Lagi


"Coal stockpile"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 16-04-2020

duniatambang.co.id - Dampak penyebaran pandemi virus corona kian terasa di berbagai sektor. Pandemi virus corona ini menjadi ancaman global.  Bahkan, Dana Moneter Internasional (IMF) sempat meramalkan akan terjadinya resesi ekonomi global. Bayangan pandemi dan resesi ini diyakini menjadi salah satu penyebab dari turunnya harga batubara termal berjangka, bahkan batubara termal terperosok ke level terendah sejak Juli 2016 lalu.

Sebagai informasi, Pada penutupan perdagangan pekan lalu yaitu pada Kamis (9/4), harga batubara termal Newcastle tercatat melemah sebesar 0,59% atau berada di level US$ 59,4/ton. Setelah turun pada penutupan perdagangan pekan lalu, di awal pekan yaitu pada Senin (13/4) batubara masih bertengger di level yang sama yaitu US$ 59,4/ton. Lalu, pada Selasa (14/4) batubara tercatat kembali terkoreksi. Batubara termal Newcastle (6.000 Kcal/Kg) kontrak futures harus tergerus sebesar 2,89% hingga menempati level US$ 57,8/ton.

Batubara kini sudah tergerus hingga 19,3% terhitung sejak 27 Maret 2020. Nasib buruk yang menimpa batubara ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, salah satunya yaitu adanya pandemi corona yang kian mengganas. Pandemi corona ini menyebabkan sejumlah Negara di dunia menerapkan berbagai kebijakan salah satunya yaitu lockdown.

Kebijakan lockdown yang dipilih oleh sejumlah Negara di dunia ini juga berdampak pada kegiatan perekonomian. Bahkan IMF, memproyeksikan akan terjadinya kontraksi hebat pada perekonomian global hingga 3%. Periode krisis yang diproyeksikan terjadi ini tidak lain dan tidak bukan seiring dengan ketikpastian kapan pandemi corona ini akan menemui titik akhirnya.

Ancaman pandemi dan ramalan resesi, diyakini membuat harga dan gairah pasar batubara semakin tertekan. Konsumsi dan permintaan batubara pun tercatat menurun. Turunnya permintaan batubara seiring dengan banyaknya kegiatan kantor dan produktivitas sejumlah pabrik menurun sehingga berimbas pada konsumsi listrik ikut turun.

Selain itu, batubara juga diterpa sentimen negatif lainnya seperti faktor iklim dan kampanye pengurangan emisi karbon. Permintaan turun membuat batubara mengalami sedikit oversupply. Batubara memang masih sangat mesra dengan sejumlah sentimen negatif yang membuatnya masih harus bertengger di level terendah.

 

Penulis : Lia Ade Putri

Editor   : Umar RP.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !