Detail Berita


Tak Hanya Wabah, Ini Pemicu Harga Batubara Merosot Hingga Jadi Yang Terburuk Sejak 2016


"Coal"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 13-04-2020

duniatambang.co.id - Empat hari terakhir harga batubara tercatat kembali mengalami penurunan. Tergerus sebesar 5 persen dari periode sebelumnya, harga batubara ini tercatat sebagai yang terendah sejak tahun 2016. Di perdagangan terakhir, harga batubara tembus ke angka 59,4 dolar Amerika per ton.

Wabah Covid-19 membuat sejumlah negara tujuan ekspor batubara menerapkan kebijakan lockdown sehingga melemahkan aktivitas ekonomi yang berujung pada turunnya permintaan akan komoditas batubara. China, negara yang menjadi awal penyebaran virus, sekaligus yang pertama mengumumkan kemenangan akan wabah itu, dianggap telah berhasil memulihkan kondisi ekonominya.

Namun rupanya, hal itu tidak berdampak besar untuk mampu mengangkat kembali nilai impor batubara negara tirai bambu tersebut. Seperti yang diketahui dalam laporan sebelumnya, awal pekan April 2020, total nilai impor Cina berada pada angka 3,3 juta ton. Angka ini masih berada dibawah nilai impor di periode yang sama pada tahun lalu dengan catatan sebesar 4,6 juta ton.

Sementara jika melihat kondisi yang masih mengalami lockdown di negara terbesar kedua ekspor batubara Indonesia, yakni India, trennya juga belum menunjukkan angka positif. Jika pada periode April tahun lalu India mengimpor batubara sebesar 4,8 juta tahun, untuk periode tahun ini hanya melakukan impor sebanyak 1,4 juta ton.

Kondisi ini senada dengan Australia yang mengekspor batubara termal dengan nilai kalori 6.000 Kcal per Kg ke sejumlah negara seperti Korsel, Jepang serta Taiwan, juga mengalami anomali yang tidak biasa seperti periode-periode sebelumnya. Diketahui, Jepang dan Korsel melakukan impor batubara termal sebanyak masing-masing 1,7 juta ton dan 0,9 juta ton pada periode tahun ini. Angka itu pun juga mengalami penurunan dibanding pada periode di tahun sebelumnya yang mencapai 3,2 juta ton dan 2,7 juta ton.

Selain pengaruh dari wabah Covid-19, rupanya penurunan permintaan batubara di negara-negara tersebut disebabkan oleh pengaruh iklim musim dingin yang lebih hangat dari biasanya. Juga adanya kebijakan yang dikeluarkan pemerintah terkait dengan perang terhadap emisi karbon. Lalu dari kebijakan politik para pemilik saham perusahaan Jepang serta Eropa yang memberikan tekanan kepada lembaga keuangan untuk mengurangi pemberian kredit terhadap sektor batubara dan energi fosil lainnya.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor   : Hazred Umar Fathan

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !