Berita

2030 Nickel Didominasi China?

Jakarta - Diprediksikan oleh Wood Mackkenzie bahwa pada tahun 2030, China akan mendominasi produksi nickel. Hal ini didorong dengan pembangunan 4 fasilitas besar di China untuk memproduksi nickel. Dengan meningkatnya produksi nickel, China dapat meningkatkan ekspor produk stainless dimana ekspor merupakan penyumbang pendapatan negara di China. Jika taktik produksi ini berhasil, produsen dari luar China akan mendapatkan kesulitan dalam menjaga pembagian pasar mereka.

Total produksi nickel memiliki production rates yang cenderung naik secara konstan. Berdasarkan data Wood Mackenzie. Pada tahun 2017 demand global terhadap nickel naik sebanyak 9%. Pada tahun yang sama, China memiliki pertumbuhan produksi stainless sebanyak 7% .

Dengan peningkatan pertumbuhan stainless, China diprediksikan akan mendukung pertumbuhan sebesar 5.8% secara global sebelum secara konstan akan naik sebesar 1.7% per tahun pada 2020 dan lanjut sebanyak 1% pada tahun 2035.

Berdasarkan data Wood Mackenzie, diestimasikan dengan peningkatan 13% demand nickel di China, China akan menopang kenaikan 8.8% demand global. Yang juga diprediksikan akan mengalami kenaikan sedikit dari tahun 2020 sampai 2035.

Negara seperti Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang, akan mengalami kenaikan yang tidak signifikan secara jangka panjang. India diproyeksikan memiliki pertumbuhan yang baik pada segmen ini tetapi tidak sebaik China.

Dalam industri nickel, Indonesia masihlah berkembang dan perkembangan Indonesia pada industri ini “digenjot” dengan pembangunan smelter di Kompleks NPI, Morowali. Hanya Tsingshan yang memiliki fasilitas terintegrasi di kompleks NPI dengan adanya peleburan stainless, melt shop, dan hot rolling line. Sistem terintegrasi ini diprediksikan akan berjalan secara efektif pada akhir tahun.

Proyeksi terhadap produk non stainless nickel akan naik. Diprediksikan pada jangka pendek terdapat kenaikan sebanyak 5%. Kenaikan ini dikarenakan dengan demand pada industri aerospace yang sering diaplikasikan pada mesin jet pesawat. Pertumbuhan jangka panjang akan mengalami kenaikan sekitar 2 % per tahun.

(FPL)