Detail Berita


Mengintip Sisi Dibalik Film Dokumentasi “Sexy Killers”



Tanggal terbit: 17-04-2019

Jakarta - Sexy Killers merupakan sebuah film dokumenter yang menjelaskan tentang permasalahan yang ditimbulkan dari industri batubara dan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap). Film ini cenderung membahas sisi negatif dari industri batubara di Indonesia. Umumnya, permasalahan yang terjadi memiliki dampak langsung kepada masyarakat yang ada di sekitar pertambangan batubara dan PLTU. Dampak langsung yang diangkat dalam film dokumenter ini adalah dampak lingkungan dan kesehatan.

Film dokumenter yang disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono mengambil studi kasus di Kalimantan Timur, Karimun Jawa, Jepara, dan Celukan Bawang. Permasalahan yang dihadapi oleh daerah-daerah ini pada intinya berkurangnya kualitas hidup masyarakat sekitar akibat keberadaan tambang batubara dan PLTU. Pengurangan kualitas ini memiliki dampak yang signifikan bagi masyarakat sekitar.

Pasalnya kegiatan pertambangan memiliki dampak lingkungan yang cukup signifikan dan tidak dapat terlepas dari hal tersebut. Dengan meningkatnya kebutuhan akan bahan tambang, kegiatan penambangan juga tidak dapat dihentikan begitu saja.

Hal yang terus mengejutkan, aktivitas industri batubara di Indonesia terus meningkat seiring dengan kebutuhan kapasitas listrik di Indonesia. Pemerintah Indonesia menargetkan kapasitas listrik 35000 MW . Berdasarkan RUPTL 2019-2028 bahwa batubara diproyeksikan mancakup 54,4% kebutuhan bahan bakar energi untuk pembangkit listrik. Kapasitas listrik pada RUPTL 2019-2028 bertambah dari 26.807 MW pada RUPTL 2018-2027 menjadi 27.063 MW.  Dari kedua hal tersebut tidak dapat dipungkiri bahwa batubara akan terus diproduksi dan akan memberikan dampak secara langsung pada masyarakat yang tinggal pada area pertambangan.

Seperti yang tertera dalam film dokumenter, batabara banyak digunakan karena biaya produksi batubara yang cenderung lebih murah (Rp 600/Kwh) dibanding dengan biaya produksi dari bahan bakar lain seperti BBM (Rp 1600/Kwh) dan gas alam (Rp 1000/Kwh). Energi terbarukan seperti sumber energi matahari memiliki biaya produksi sekitar Rp 2900/Kwh, lebih mahal dua kali lipat dibandingkan gas alam dan hampir lima kali lipat lebih mahal dibandingkan batubara.

Kemudian pertanyaan yang akan timbul adalah, apakah masyarakat siap mengalami penaikan harga listrik yang cukup drastis?

Selain kesiapan ekonomi masyarakat, persiapan dan sosialisasi energi terbarukan membutuhkan waktu. Untuk mengisi waktu persiapan tersebut, tidaklah mungkin dengan era digital ini, manusia memotong begitu saja pasokan listrik yang berasal dari batubara. Apalagi dengan pasokan listrik Indonesia yang 54,4% nya bergantung terhadap energi batubara.

Kebutuhan kita akan bahan tambang untuk menerangi rumah dan jalan kita merupakan kebutuhan yang vital. Perkembangan teknologi di zaman sekarang berjalan sejajar dengan demand kebutuhan bahan tambang khususnya batubara sebagai bahan bakar listrik. Hal yang dapat kita lakukan adalah bagaimana cara mengontrol kebutuhan kita dengan cara menghemat dan mengefisiensikan bahan bakar yang kita keluarkan.

Film dokumenter “Sexy Killers” dapat kita gunakan sebagai media untuk introspeksi diri baik bagi pemerintah maupun masyarakat. Permasalahan lingkungan ini merupakan tantangan bagi kita untuk mencari solusi yang lebih baik dan menguntungkan kedua belah pihak. Permasalahan ini dapat menjadi ide yang dapat membantu pengembangan IPTEK Indonesia mengenai bagaimana caranya menghasilkan sumber daya atau pengembangan teknologi industri yang lebih baik.

Isu pertambangan akan selalu menjadi momok menakutkan bila dilihat dari satu sisi, sebenarnya aktivitas pertambangan memiliki dampak yang begitu besar bagi pemenuhan listrik di Indonesia. Hal tersebut pun selaras dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh Komite Energi Nasional (KEN) pada tahun 2015 yang merupakan bagian dari Dewan Energi Nasional (DEN), dimana salah satu analisis yang diberikan yaitu hingga tahun 2050, industri batubara masih memiliki peranan sebesar 25% dari kebutuhan energi nasional, walaupun sudah banyak berkembang dari green energi dan faktor-faktor lainnya, belum bisa mensubtitusi kebutuhan negeri.

Sexy Killers merupakan film dokumenter yang menuai banyak pro dan kontra dari masyarakat. Konten yang disajikan dari film tersebut merupakan fakta yang terjadi di lapangan. Di sisi lain, sekarang adalah bagaimana kita menyikapi hal tersebut. Dengan adanya dokumenter ini, masyarakat diharapkan dapat lebih peka dan kritis lagi dengan kondisi alam Indonesia agar dengan sesama kita semua dapat mencari solusi yang lebih baik untuk memecahkan masalah ini.

(FPL)

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !