Detail Berita


Harga Batubara Menguat Satu Persen, Imbas Aksi Beli Dan Pulihnya Cina


"Coal Stockpile"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 19-03-2020

duniatambang.co.id - Penguatan harga sebesar 0,99% terjadi pada batubara kontrak ICE Newcastle pada perdagangan Senin (16/03), yang ditutup di angka 66,1 USD per ton. Diketahui, penguatan ini diakibatkan oleh harga batubara yang saat ini sudah terlalu murah di pasaran. Pada 9 Maret lalu, harga batubara menyentuh level paling rendah sejak perdagangan pada September 2019 silam, yakni berada di angka 64,5 USD per ton. Harga yang amat rendah ini, dianggap sebagai kesempatan para trader untuk melakukan aksi beli, sehingga terjadi penguatan yang lumayan signifikan.

Perubahan harga batubara ini tak lepas dari adanya wabah Virus Corona yang menyerang Cina, yang selama ini menjadi konsumen terbesar batubara di dunia. Namun saat ini kondisi wabah Virus Corona di Cina mulai berangsur membaik, sehingga memberikan tren positif pada perdagangan. Pasalnya, saat negara itu dalam masa darurat wabah, ekonomi dunia langsung mengalami gangguan.

Terkait kondisi impor Cina yang berangsur membaik ini, belum bisa dipastikan dampaknya pada ekspor batubara Indonesia. Ada sejumlah hal yang bisa menjadi penentu kondisi pasar batubara Asia Pasifik jalur laut yakni, seberapa cepat tambang batubara yang dimiliki Cina untuk kembali beroperasi dengan kapasitas maksimal. Dari laporan yang ada selama bulan Maret ini, tambang batubara Cina sudah beroperasi sekitar 80% dari total kapasitasnya.

Apabila pemulihan dalam sektor operasi bisa membaik secara signifikan, sehingga bisa seimbang dengan sektor manufaktur serta aktivitas ekonomi, maka kebutuhan batubara tersebut akan mengalami penekanan.

Sementara faktor lainnya adalah kebijakan dari pemerintah Cina terkait impor batubara. Apabila pemerintah Cina masih akan melakukan pembatasan terhadap impor seperti pada periode sebelumnya, tentu hal ini bukanlah sebuah kabar yang baik. Apalagi, India dan Korea Selatan yang juga menjadi konsumen utama batubara, masih belum bisa bangkit akibat wabah Virus Corona yang belum teratasi.

Sebagai informasi tambahan, pasokan listrik Korea Selatan 40% nya tergantung pada 60 pembakit listrik dengan bahan bakar batubara. Jadi jika pembangkit listrik itu masih belum bisa dioperasikan, tentu akan sangat berpengaruh juga pada permintaan batubara di Negara Ginseng tersebut.

 

Penulis : Edo Fernando

Editor   : Faris Primayudha

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !