Detail Berita


Corona Sebabkan Konsumsi Listrik China Turun, Emiten Batubara Terdampak?


"Coal Mining"
Sumber gambar: gettyimages.com


Tanggal terbit: 27-02-2020

duniatambang.co.id - Wabah virus corona memang masih merebak bahkan di sejumlah Negara. Virus corona nampaknya mempengaruhi sejumlah sektor, yang terbaru yaitu munculnya isu akan adanya potensi turunnya konsumsi listrik China terutama listrik di sektor industri yaitu sebesar 1,5%. Sebagai informasi, batubara masih mendominasi untuk bahan bakar kelistrikan di China secara persentase yaitu sebesar 60%, adanya potensi penurunan konsumsi listrik sektor industri membuat konsumsi batubara China juga diproyeksikan akan turun.

Munculnya kemungkinan konsumsi batubara China akan turun, sedikit banyak menimbulkan kekhawatiran bagi emiten batubara tanah air. Bagaimana tidak, China merupakan salah satu market besar sebagai Negara tujuan ekspor sejumlah emiten batubara tanah air. Kendati demikian, sejumlah hingga saat ini emiten batubara kenamaan seperti PT Adaro Energy Tbk, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT ABM Investama Tbk (ABMM) mengaku belum terdampak secara signifikan oleh isu tersebut terhadap aktivitas ekspor batubara mereka ke China.

PT Adaro Energy Tbk mengatakan bahwa hingga saat ini kegiatan ekspor batubara ke negeri tirai bambu masih berjalan lancar sebagaimana mestinya. China memegang porsi 12% dari total market batubara ADARO. Ketika wabah corona merebak dan isu konsumsi listrik China turun, ADARO mengaku belum terdampak secara signifikan. Kendati demikian, ADARO juga tetap optimis meskipun nantinya kuota impor batubara China turun, ADARO sudah menyiapkan strategi salah satunya dengan menerapkan fleksibilitas untuk melakukan peralihan pasar.

Senada dengan ADARO, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengaku hingga saat ini kegiatan ekspor batubara ke China belum terdampak wabah corona dan isu penurunan konsumsi listrik China. China memiliki porsi 19% dari total market BUMI pada tahun lalu. Jika nantinya kuota impor China turun, BUMI akan mengoptimalkan penjualan pada market ekspor di Negara lainnya dan mengoptimalkan permintaan pasar dalam negeri.

Begitupula dengan PT ABM Investama Tbk (ABMM), pihaknya mengatakan bahwa porsi ekspor batubara China hanya 5% dari total market. Turunnya permintaan China nantinya akan tertutupi dengan pertumbuhan pasar baru bagi batubara miliknya. Sehingga sejauh ini, sejumlah isu tersebut belum mempengaruhi secara signifikan bagi market ABMM. Ketiga emiten tersebut berharap kinerja mereka dapat lebih baik dari tahun sebelumnya meski hingga saat ini batubara masih dibayangi dengan sentimen negatif dan rentan koreksi. Lantas, Bagaimana pasar batubara kedepannya akankah kembali menukik atau justru meroket?

 

Penulis : Lia Ade Putri

Editor   : Umar RP.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !