Detail Berita


Tinjau Ulang nilai Kompensasi Data Informasi (KDI), ESDM Adakan Diskusi Terbaru


"Forum Group Discussion KDI"
Sumber gambar: Dok. IAGI


Tanggal terbit: 09-01-2020

Duniatambang.co.id – Jakarta. Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) akan merevisi nilai Kompensasi Data Informasi (KDI) dalam lelang blok tambang. Informasi yang diperoleh dari Muhammad Wafid Agung selaku Direktur Bina Program Minerba Kementerian ESDM mengatakan, revisi nilai KDI tersebut merupakan masukan dari beberapa stakeholders terkait peruntukkan untuk Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) dan WIUP Khusus (WIUP Khusus).

Rencananya revisi yang dilakukan akan dimasukkan kedalam Kepmen terbaru. Protes yang disampaikan oleh stakeholders melalui asosiasi profesi yang menaungi itu dilayangkan akibat nilai KDI terlalu tinggi, dimana berdampak proses lelang blok tambang menjadi kurang menarik untuk dilakukan.

Beberapa faktor yang menyebabkan turunnya minat untuk melakukan lelang adalah, beberapa blok tambang yang ditawarkan masih dalam status eksplorasi. Hal tersebut disampaikan oleh Djoko Widajatno yang merupakan Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA), sehingga perlu adanya biaya yang dikeluarkan untuk bisa melalui beberapa tahap studi. Selain itu, mahalnya harga KDI menyebabkan ketidak pastian dalam penguasaan wilayah usaha pertambangan.

“Disisi lain, beberapa perusahaan tambang masih banyak terganjal dengan proses administrasi yang belum rampung diantaranya seperti tumpang tindih lahan dan kasus hukum” Tutur Djoko

Sementara itu, Sukmandaru yang merupakan Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menambahkan akibat blok yang ditawarkan masih berstatus eksplorasi, dirasa itu belum masuk perhitungan dengan nilai yang cukup tinggi. Perlu adanya kajian ulang tentang besarnya nilai yang ditawarkan untuk bisa menciptakan hal yang kompetitif dan membuat investor tertarik.

Irwandy Arif, Ketua Indonesian Mining Institute (IMI) yang juga staf khusus Menteri ESDM sepakat untuk harga KDI perlu dievaluasi, sehingga mampu menarik investor untuk berinvestasi. Informasi yang diperoleh dari Wafid, saat ini ada empat WIUPK yang dilelang yaitu WIUPK Suasua (nikel/KDI: Rp 984,85 miliar), WIUPK Latao (nikel/KDI: Rp 414,8 miliar). WIUP Kolonodale (nikel/KDI: Rp 209 miliar), dan WIUPK Rantau Pandan (batubara/KDI: Rp 352,6 miliar). Dari keempat WIUP tersebut merujuk dari Menteri ESDM No. 1805K/30/MEM/2018 tentang harga KDI dan informasi penggunaan lahan WIUP dan WIUPK periode tahun 2018.

Selain itu, Wafid mengatakan pada tahun 2019 terdapat tiga WIUPK yang masuk kedalam daftar lelang, dimana penawaran prioritas diajukan terlebih dahulu ke Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ataupun Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) diantaranya terletak di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Yakni WIUPK Pongkeru (nilai KDI: Rp 485,2 miliar), WIUPK Lingke Utara (KDI: Rp 78,86 miliar), serta WIUPK Bulubalang (KDI: Rp 143,3 miliar).

Kejadian yang unik pada tahun 2019 adalah tidak ada satu pun blok lelang yang berhasil dijual dikarenakan masalah administrasi dan hukum yang berkaitan dengan tumpeng tindih wilayah dan perizina.

Penulis : Ocky Pradikha Riadi
Editor : Umar R.P
Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !