Detail Berita


Pelarangan Ekspor Resmi Berlaku, Smelter Nikel Tingkatkan Produksi


"Material Hand Specimen Nikel "
Sumber gambar: Dok. duniatambang.co.id


Tanggal terbit: 02-01-2020

Jakarta, duniatambang.co.id – Indonesia termasuk negara produsen nikel terbesar di dunia. Tercatat pada tahun 2019 telah terjadi peningkatan produksi hingga 185% sebesar 1.598.365,81 ton dari perencanaan telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia.

Secara geografi, sumber daya nikel banyak ditemukan di bagian timur Indonesia, hal tersebut yang menyebabkan dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi pembangunan secara signifikan dalam hilirisasi pertambangan di bagian timur Indonesia. Tercatat, pada tahun 2019 terdapat 12 smelter nikel yang telah aktif beroperasi, dan tercatat 25 emiten sedang melakukan pembangunan untuk mulai mengolah hasil material mentah bijih nikel.

Produksi Nikel di Indonesia pada tahun 2019 (Sumber: Dok. Minerba/ modi.minerba.go.id)

 

Terdapat beberapa macam olahan yang bisa dihasilkan dari proses hilirisasi diantaranya pyrometallurgy yang produknya berupa Ni-Matte, FeNi dan NPI, Pyro-Hydrometallurgy yang hasil olahannya berupa Caron, dan Hydrometallurgy yang hasil olahannya berupa HL, AL, dan HPAL. Hingga tahun 2023, beberapa perusahaan nikel mencoba untuk bisa meningkatkan kapasitas produksi yang mencapai 658.100 ton.

Pada tahun 2019 terdapat empat perusahaan yang meningkatkan kapasitas produksinya yaitu Tsingshan (100.000 ton), PT Virtue Dragon (70.000 ton), Jinchuan Group and WP (30.000 ton), dan Antam Ferronickel (13.500 ton) yang meningkatkan kapasitas pada NPI/FeNi dengan total penambahan yaitu 213.5000 ton

Kemudian pada tahun 2020, Tsingshan/ antam (minority)/ sumitomo akan meningkatkan produksi (117.000 ton), Antam-OENI (30.000 ton), Tshingshan, GEM, CATL – HPAL (50.000 ton), Harita-Lygend HPAL (37.000 ton), Huayou Nickel Project (60.000) dengan total penambahan di 2020 yaitu 294.000 ton.

Sedangkan di tahun 2021, terjadi penurunan kapasitas dibanding tahun-tahun sebelumnya yaitu Ceria Nugraha Indonesia (50.600 ton), dan Vale-Sumitomo HPAL (40.000 ton) sebesar 90.600 ton, pada tahun 2022 tidak ada penambahan kapasitas. Pada akhir di tahun 2023, hanya ada satu perusahaan yang meningkatkan kapasitas yaitu Vale-Chinese sebesar 60.000 ton.

 

Penulis : Hazred Umar Fathan
Editor   : Wasis
Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !