Detail Berita


PTBA-Pertamina, Secercah Harapan Gasifikasi Batubara  


"Aktivitas Tambang Batubara di PT Bukit Asam Tbk"
Sumber gambar: ptba.co.id


Tanggal terbit: 19-12-2019

duniatambang.co.id – Sektor pertambangan adalah salah satu yang menjadi fokus pemerintah untuk menyeimbangkan neraca perdagangan. Dalam beberapa kesempatan, Presiden Jokowi mengingatkan masalah minusnya neraca perdagangan, atau CAD (Current Account Deficit). Hilirisasi komoditas tambang akan menjadi salah satu upaya untuk mengurangi defisit perdangangan.

Upaya pelarangan ekspor nikel yang dipercepat dari tahun 2022 menjadi tahun 2020 adalah salah satu program pemerintah untuk menekan defisit perdagangan. Komoditas lain yang diproyeksikan dapat untuk menambah nilai jual produk adalah batubara salah satunya melalui gasifikasi.

Indonesia merupakan negara yang terhitung sukses dalam konversi bahan bakar rumah tangga dari minyak tanah ke gas LPG. Namun masalah konsumsi bahan bakar LPG yang meningkat, juga dapat menyisakan persoalan baru. Angka impor LPG yang terlalu tinggi dapat mengganggu keseimbangan neraca perdagangan. Proyek konversi batubara menjadi gas, mulai dilirik pemerintah.

PT Bukit Asam dan Pertamina, sebagai dua perusahaan pelat merah dipercaya untuk inisiasi proyek merubah batubara menjadi gas. Kedua emiten tersebut bergerak cepat, melakukan kalkukasi ekonomi dan feasibility study untuk merubah batubara menjadi gas DME. Dua lokasi dijadikan pilihan, Tanjung enim Sumatera selatan dan Peranap Riau. Mitra untuk mengeksekusi proyek ini pun mulai dijajaki. PT. Pupuk Indonesia dan PT. Chandra Asri chemical ditunjuk untuk menggarap proyek di Tanjung Enim, sedangkan untuk Peranap Riau ditunjuk Air Product and Chemicals Inc.

Baca juga: PTBA-Pertamina Kolaborasi Proyek Gasifikasi Batubar

Rencana gasifikasi batubara bisa terancam kurang berhasil, mengingat apabila harga produk akhir gasifikasi batubara lebih mahal dari harga LPG. Pasar tentunya tidak akan bisa menyerap produk akhir gasifikasi batubara tersebut apabila harganya jauh diatas harga LPT. Hitung-hitungan jeli tentunya harus diperhatikan di sini, bagaimana keuntungan ekonomis dari gasifikasi batubara, sehingga proyek ini justru menimbulkan beban baru bagi negara.

Batubara kalori rendah, sebagai bahan mentah untuk produksi gasifikasi ini memiliki peranan vital. Pemerintah perlu mempertimbangkan kebijakan harga batubara sebagai komponen vital proyek gasifikasi ini. Intervensi pemerintah terhadap harga batubara, sebagai bahan mentah dibutuhkan untuk keberlanjutan proyek. Beberapa opsi hendaknya dipertimbangkan pemerintah, royalti harga batubara kalori rendah, atau dengan kebijakan harga DMO (Domestic Market Obligation) yang sudah diterapkan beberapa tahun belakangan ini. Sebagai catatan, konsumsi batubara kalori rendah untuk proyek gasifikasi Tanjung enim diprediksi sebesar 5,2 juta ton.

PT. Bukit Asam dan Pertamina diharapkan dapat mematangkan feasibility study agar proyek gasifikasi batubara ini berjalan sukses. Di sisi lain, dukungan pemerintah memang sangat dibutuhkan, agar proyek ini berhasil demi mengurangi angka defisit neraca perdagangan. Insentif royalti, kebijakan harga batubara kalori rendah menjadi opsi yang perlu dipertimbangkan untuk menyukseskan program hilirisasi batubara.

Penulis : Suwanjaya

Editor    : Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !