Detail Berita


Hilirisasi Nikel: Masa Depan Mobil Listrik Indonesia


"Smelter"
Sumber gambar: shutterstock.com


Tanggal terbit: 15-12-2019

duniatambang.co.id - Indonesia yang memiliki cadangan nikel cukup besar memang memiliki peranan penting dalam supply nikel dunia. Kebijakan larangan ekspor nikel yang dipercepat dua tahun lebih awal yang seharusnya pada tahun 2022 menjadi tahun 2020 membuat Uni Eropa ketar-ketir hingga melaporkan Indonesia ke WTO.

Nikel tampaknya akan menjadi primadona komoditas tambang dalam beberapa tahun ke depan.  Pengembangan kendaraan listrik yang sedang bergeliat membuat nikel sebagai bahan baku komponen baterai akan melejit. Selain itu, industri baja juga tidak terlepas dari peran nikel sebagai bahan baku.

Baca juga: Perpres Mobil Listrik Diteken, Industri Nikel Kena Imbas Positif

Wacana hilirisasi produk komoditas Indonesia sudah lama digaungkan, terutama nikel. Pelarangan ekspor nikel kadar rendah yang dipercepat adalah bagian dari rencana pemerintah untuk menarik investasi. Dengan adanya pelarangan tersebut, maka diharapkan pelaku industri hilir akan merelokasi operasional ke Indonesia.

Penjajakan investasi baru sedang dilakuka untuk pembuatan baterai lithium dengan menggunakan teknologi HPAL (high pressure acid leaching). Empat lokasi hilirisasi Nikel yang menggunakan teknologi hidrometalurgi tersebut di Sulawesi Tengah, PT. Huaye Bahodopi di IMIP industrial park Morowali dan PT. QMB New Energy Material, Maluku Utara  PT. Halmahera Persada Lygend, Sulawesi Tenggara PT. Andhika Cipta Mulia di Konawe Utara dan PT. Vale Indonesia Tbk dan terakhir di Banten yaitu PT. Smelter Nikel Indonesia.

Dengan pengoptimalan nilai tambah produk nikel melalui hilirisasi diharapkan dapat berdampak positif juga terhadap neraca perdagangan Indonesia.

 

Penulis : Suwanjaya

Editor    : Ocky PR.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !