Detail Berita


Press Release The 6th Ruang XY: Overview Gender Mainstreaming in the Indonesia’s Extractive Industri


"The 6th Ruang XY: Overview Gender Mainstreaming in the Indonesia’s Extractive Industri"
Sumber gambar: dokumen WIME Indonesia


Tanggal terbit: 15-11-2019

duniatambang.co.id - Pada tanggal 5 November 2019 bertempat di JS Luwansa Hotel & Convention Centre, kembali Women in Mining & Energy (WiME) berkolaborasi dengan The World Bank dan Global Affairs Canada menyelenggarakan Diskusi Ruang XY yang ke-6. Pada kesempatan ini, tema yang diangkat adalah “Overview of gender mainstreaming in Indonesia’s extractive industries”. Diskusi ini terbagi menjadi 2 sesi; pemberdayaan perempuan pada Pertambangan Rakyat pada sesi pertama dan pengarusutamaan gender pada industri tambang dan energi pada sesi kedua.

Tujuan dari diadakannya diskusi ini adalah untuk mendapatkan masukan dan memperkaya hasil studi pengarusutamaan gender pada industri pertambangan rakyat yang dilakukan di Sekotong, Kabupaten Lombok Barat dan sektor formal yang diwakili oleh beberapa sektor industri formal di Indonesia. Studi ini dilakukan oleh The World Bank dan LPEM UI di bawah kerangka proyek “Natural Resources for Development” yang didanai oleh Global Affairs Canada. Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kontribusi industri tambang dan energi terhadap upaya penanggulangan kemiskinan, meningkatkan kemakmuran berbagai kalangan masyarakat, serta meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan.

Terdapat sembilan pembicara dengan latar belakang yang beragam yang mengisi Ruang XY keenam kali ini. Pembicara pada sesi pertama adalah Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) yang diwakili oleh Ibu Baiq Dewi Eva Ratmaji sebagai Asisten III Provinsi NTB dan Bapak Fauzan Khalid (Bupati Kabupaten Lombok Barat), sementara perwakilan NGO (NonGovernmental Organization) dan swasta diawakili oleh Ibu Vovia Witni dari Yayasan Tambuhak Sinta (YTS) dan Ibu Meri Geraldine dari Gardens of the Sun (GoTS). Pemaparan hasil studi pada sesi pertama ini diwakili oleh tim dari LPEM UI.  

Banyak hal yang dapat diambil dari pemaparan tiap presenter pada sesi pertama. Keberadaan perempuan pada industri pertambangan rakyat ini mendapatkan perhatian, besar baik dari pihak pemerintah dan swasta serta lembaga pemberdayaan masyarakat lokal. Peran dan tanggung jawab perempuan dalam industri pertambangan rakyat ini terutama akses dan kontrol terhadap ketersediaan dan pemanfaatan sumber daya alam sangat terbatas.

Terdapat perbedaan antara cara pandang perempuan dan laki-laki dalam komunitas penambang rakyat ini, yaitu perempuan cenderung memikirkan keberlangsungan pekerjaan mereka di masa mendatang dan tanggung jawab terhadap lingkungan, sementara laki laki lebih memikirkan peningkatan produksi. Hal ini berdasarkan pengamatan di lapangan pada proyek pemberdayaan dan peningkatan perempuan penambang di Desa Tewang Pajangan, Kalimantan Tengah yang dilakukan oleh YTS.

Penggunaan bahan kimia Merkuri (Hg) dalam pertambangan rakyat juga menjadi perhatian di mana Merkuri memberikan dampak yang sangat buruk bagi perempuan dan anak. Ibu Meri selaku pengusaha perhiasan yang berbasis di Bali ini mengajak setiap orang untuk berhenti membeli perhiasan, terutama emas yang menggunakan Merkuri. Ibu Meri melakukan pelatihan tentang metode menambang tanpa menggunakan Merkuri kepada para penambang perempuan di Kalimantan Tengah. Hal yang sama juga terjadi di daerah Sekotong, Lombok Barat. Berdasarkan hasil studi oleh LPEM UI, penting untuk menyediakan lapangan pekerjaan alternatif bagi para penambang perempuan karena diindikasikan para perempuan di daerah Sekotong ini terpapar Merkuri pada level yang berbahaya. Perempuan didorong untuk terlibat lebih banyak dalam industri pariwisata. Untuk mewujudkan hal ini maka dibutuhkan dukungan dari pihak keluarga, terutama kepala keluarga (suami), pemerintah daerah dan pihak swasta. 

Hal ini sejalan dengan salah satu program dari Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat sendiri yaitu membuat tim terpadu dalam pengelolaan Pertambangan Rakyat ini untuk memutus rantai pasokan Merkuri di wilayah NTB serta melakukan koordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam penyediaan lapangan kerja alternatif bagi para penambang perempuan ini. Sosialisasi dan kampanye pelarangan penggunaan Merkuri juga akan terus dilakukan sebagai salah satu bentuk dukungan pemerintah daerah kepada industri tambang rakyat ini.

Pada sesi kedua, dibuka oleh Bapak Togu Pardede, sebagai perwakilan dari BAPPENAS yang menjelaskan singkat tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 - 2024 di mana masih terdapat celah terkait pengarusutamaan gender di setiap program pemerintah. Dalam RPJMN kali ini akan lebih fokus pada pengembangan perempuan, termasuk pada generasi muda. Hasil studi LPEM UI dan World Bank di segmen selanjutnya memaparkan tentang penerapan pengarusutamaan gender pada sektor formal. Beberapa perusahaan tambang batubara terkemuka seperti PT Agincourt Resources, PT Arutmin Indonesia dan PT Freeport Indonesia menjadi contoh untuk penerapan program kesetaraan gender. Penerapan program kesetaraan gender pada ketiga perusahaan ini telah dilakukan pada level yang berbeda yang disebabkan oleh beberapa faktor penentu antara lain komitmen manajemen, kondisi geografi, unsur sosial dan budaya.

Adapun pemateri selanjutnya berasal dari sektor swasta, yaitu Ibu Indah mewakili Schneider Electric Indonesia & Ibu Meilyn Tann dari Thiess Contractor Indonesia (TCI). Penerapan program kesetaraan gender pada Schenider Electric misalnya dimulai dari komitmen manajemen yang kuat sehingga mempengaruhi kinerja setiap departemen pada perusahaan. Sebagai contoh dalam sistem perekrutan karyawan baru diutamakan calon karyawan perempuan, dan target jumlah karyawan perempuan secara keseluruhan pada perusahaan harus mencapai 30%.

TCI juga memberikan contoh yang konkrit tentang pelaksanaan kesetaraan gender. Faktor kebijakan perusahaan menjadi hal yang sangat penting untuk meningkatkan jumlah pekerja perempuan dalam organisasi, termasuk mempekerjakan operator perempuan yang dapat menyamai kemampuan operator laki-laki dengan memperhatikan kebutuhan perempuan di lapangan. Kunci sukses dari keberhasilan program ini adalah konsistensi, pemahaman yang baik pada semua level serta akuntabilitas yang diberikan oleh tiap pemimpin. Diskusi kali ini dimoderatori oleh Ibu Intan Darmawati yang merupakan seorang gender spesialis.

Ruang XY ke-6 ini merupakan rangkaian terakhir Ruang XY yang membahas tentang issue terkait pengarusutamaan gender di sektor formal dan informal. Ruang XY ketujuh akan merangkum Ruang XY selama setahun ini yang akan diselenggarakan di awal tahun 2020.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !