Detail Berita


Batubara Terjun Payung, Begini Kondisi Kesehatan Emiten Batubara


"Aktivitas Tambang Batubara"
Sumber gambar: shutterstock.com


Tanggal terbit: 12-11-2019

duniatambang.co.id - Komoditas batubara memang dalam kondisi terpuruk. Hampir sepanjang tahun ini belum mendapatkan katalis positif yang membuat harga batubara kembali meroket dan stabil. Sejumlah emiten pun harus mengambil kebijakan-kebijakan untuk menekan beban pendapatan dan mendukung kinerja.

Sebagai informasi dari catatan CNBC Indonesia, Harga batu bara kontrak ICE Newcastle sejak awal tahun hingga periode perdagangan Jumat pekan lalu telah mencatatkan koreksi sebesar 33,6%. Harga batu bara acuan (HBA) yang ditetapkan oleh kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sejak Januari hingga November secara point to point mengalami koreksi 28,3%.

Baca juga: AS Cabut Dari Perjanjian Paris, Katalis Positif Bagi Batubara

Harga batubara yang tidak stabil bahkan terjun payung membuat sejumlah emiten tertekan. Fitch Rating sebagai Lembaga pemeringkat surat utang global kembali menyoroti sejumlah emiten batubara tanah air. Kini Fitch, menganalisis mengenai kondisi kesehatan emiten tambang batubara tanah air dari segi pendapatan, beban pendapatan dan kinerja.

Emiten yang disoroti seperti PT Adaro Indonesia (BBB-/Stable) dan PT Bayan Resources Tbk (BB-/Stable). Kedua emiten tersebut salah satu emiten yang memiliki fondasi yang kokoh sehingga masih dalam keadaan stabil dan aman di tengah badai yang menerpa komoditas batubara. Kinerja PT Adaro Indonesia dapat stabil didukung oleh sejumlah bisnis jasa yang dijalankan. Sementara PT Bayan Resources Tbk menunjukkan posisinya sebagai cost leader di industrinya karena menghasilkan EBITDA paling besar dibanding yang lain. Sebagai informasi EBITDA adalah pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi.

Berbeda dengan kedua emiten tersebut. Menurut Fitch, Geo Energi Resource Limited (B/Negative) dan PT ABM Investama Tbk (B+/Negative) memiliki potensi terguncang dan kinerja negatif akibat penurunan harga batubara. Fitch menyebutkan bahwa kedua emiten tersebut berpotensi mengalami permasalahan arus kas dan likuiditas. Fitch juga mengatakan bahwa penurunan harga batubara juga berdampak pada perusahaan kontraktor jasa pertambangan seperti PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BB-/Stable) meskipun masih dalam kondisi cenderung aman, BUMA mengalami penurunan pendapatan akibat menurunnya aktivitas jasa pertambangan. Hal ini membuat sejumlah emiten batubara mengalami tekanan dan berharap akan ada katalis positif yang dapat membuat batubara stabil dan meroket.

 

Penulis : Lia Ade Putri

Editor   : Umar RP.

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !