Detail Berita


Perempuan Pendulang Emas Mengais Pundi-Pundi Rupiah



Tanggal terbit: 07-11-2019

duniatambang.co.id – Industri pertambangan identik dengan pekerja laki-laki. Berkenaan dengan hal itu, Women in Mining and Energy (WIME) Indonesia  bersama Global Affairs Canada dan World Bank mengadakan diskusi terkait pandangan gender mainstreaming di industri ekstraktif di Indonesia. Seminar yang diadakan di Hotel JS Luwansa Jakarta itu menghadirkan pembicara dari berbagai latar berlatar belakang mulai dari HR, penggiat sosial, pemerintahan, dan praktisi.

Vovia Witni salah satu narasumber dari Yayasan Tambuhak Sinta membahas mengenai perempuan pendulang emas di Tewang Pajangan, Kalimantan Tengah. Di sana, perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga sudah menjadi hal yang lumrah.

Industri pertambangan yang didominasi laki-laki, nyatanya tidak menutup kemungkinan bagi perempuan untuk turut andil. Dalam penerapannya, ada perbedaan cara kerja laki-laki dan perempuan. Laki-laki lebih memikirkan target dan produksi, sementara perempuan cenderung lebih peduli terhadap lingkungan.

Pertama-tama yang dilakukan oleh Yayasan Tambuhak Sinta adalah gender mapping untuk melihat situasi gender pada daerah tersebut. Adapun tahap awal dari gender mapping adalah pengenalan dan edukasi perempuan untuk terjun pada industri ekstraktif.

Setelah gender mapping tuntas, Yayasan Tambuhak Sinta mulai melakukan pemberdayaan perempuan. Tahapan yang paling awal dilakukan adalah formalisasi aktivitas pendulang emas. Hal ini bertujuan agar pendulang emas bisa mendaptakan akses program bantuan dari pemerintah setempat.

Tahap berikutnya adalah meningkatkan recovery emas yang didapatkan. Sebelum pemberdayaan ini dilakukan, recovery emas yang didapatkan rendah. Parahnya lagi, jika musim kemarau tiba masyarakat bisa saja tidak bisa mendulang emas.

Kemudian, edukasi proses pemurnian secara langsung dengan memperkenalkan teknologi recovery secara gratis. Dilanjutkan dengan low impact mining, bertujuan agar bekerja tidak merusak lingkungan. Regular monitoring, agar menjadi grup independen supaya bisa membayar biaya operasional sendiri.

Tidak hanya melakukan pemberdayaan perempuan, Yayasan juga membuat mereka terhubung dengan pasar yang potensial agar hasil emas yang mereka dulang dapat memenuhi pundi-pundi rupiah.

 

Penulis : Mayang Sari

Editor    : Wasis

Berikan Komentar

Kunjungi web Advertising kami !