Detail Berita


AS Cabut Dari Perjanjian Paris, Katalis Positif Bagi Batubara


"Pengaruh Amerika Cabut dari Perjanjian Inggris terhadap Harga Batubara"
Sumber gambar: cnbcindonesia.com


Tanggal terbit: 07-11-2019

duniatambang.co.id - Awal November, Amerika Serikat kembali membuat heboh. Amerika Serikat resmi mengajukan permohonan untuk keluar dari perjanjian paris. Sebagai informasi, perjanjian paris atau paris agreement berisi tiga poin. Pertama, menekan laju kenaikan temperatur global hingga 2 derajat celcius, kedua pembangunan yang rendah emisi karbon dan terakhir membuat suplai keuangan yang konsisten demi tercapainya pembangunan yang rendah emisi. Perjanjian ini di tandatangani 55 negara anggota yang tergabung dalam United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC).

Baca juga: Peran Cina, Rusia, dan Uni Eropa Terhadap Harga Batubara

Negara-negara yang menandatangani perjanjian ini berkomitmen untuk mengurangi penggunaan energi yang memicu kenaikan temperatur global yang dalam hal ini salah satunya adalah batubara. Perjanjian paris ini merupakan salah satu ancaman bagi industri batubara. Setelah beberapa tahun isu AS akan cabut dari perjanjian paris mencuat, kini isu tersebut bukan isapan jempol belaka setelah AS secara formal mengajukan pengunduran diri.

Konsumsi batubara Amerika Serikat pun terus mengalami tren penurunan sejak 2008. Namun kini, Presiden Amerika serikat menilai perjanjian paris sedikit banyak menekan ekonomi AS. Apalagi ditambah dengan adanya perang dagang dan ekonomi global yang sedang tidak kondusif membuat pertumbuhan ekonomi AS melambat. Melihat hal itu, tampaknya AS akan kembali menggunakan batubara untuk keperluan energi mereka karena batubara masih menjadi sumber energi ekonomis dibandingkan dengan energi baru terbarukan.

Berita cabutnya AS dari perjanjian paris menjadi katalis positif bagi batubara. Harga batubara kontrak ICE Newcastle ditutup menguat pada perdagangan Senin (4/11/2019), batubara berada dilevel 67,75/ton naik tipis sebesar 0,07%. Tak hanya itu, dari catatan CNBC Indonesia beberapa saham emiten batubara dalam negeri pun ikut tergerek naik, antara lain saham PT Indika Energi Tbk (INDY) naik 3,92% menjadi Rp 1.325/saham. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) naik 3,48% ke level Rp 2.380/saham dan PT Adaro Energi Tbk (ADRO) naik 3,12% ke level Rp 1.320/saham.

Harga Batubara Acuan (HBA) RI per November 2019 pun ikut naik tipis 2,2% ke level 66,27/ton. Indonesia sebagai Negara produsen batubara melihat adanya potensi kenaikan permintaan batubara mendekati musim dingin dan sentimen positif terhadap industri batubara setelah AS cabut dari perjanjian paris.  Produsen batubara berharap katalis positif bagi industri batubara terus bermunculan agar industri batubara kembali meroket.

 

Penulis : Lia Ade Putri

Editor   : Umar RP.

Berita serupa
Berikan Komentar

Kunjungi web Advertising kami !