Detail Berita


Peran Cina, Rusia, dan Uni Eropa Terhadap Harga Batubara


"Aktivitas Tambang Batubara di Kalimantan Timur"
Sumber gambar: katadata.co.id


Tanggal terbit: 06-11-2019

duniatambang.co.id - Indonesia sebagai salah satu pengekspor batubara terbesar di dunia saat ini menderita akibat jatuhnya harga batubara secara global. Dalam bulan Oktober 2019, Harga Acuan Batubara (HBA) ditetapkan pada  level US$ 64,8/mt, terendah sejak 3 tahun terakhir. Memasuki bulan November, harga yang ditetapkan sedikit meningkat pada US$ 66,27/mt, namun masih belum cukup kuat untuk bangkit kembali pada $72,67/mt seperti pada bulan Agustus lalu.

Penurunan harga batubara paling besar dipengaruhi oleh pengurangan permintaan China. Wakil kepala ekonomi Sinopec, Wu Gangqiang mengatakan, "Karena situasi ekonomi makro dan program batubara ke gas oleh pemerintah, pertumbuhan konsumsi batubara di China menurun". Pemerintah mendorong program ini karena Cina adalah negara tertinggi dengan emisi CO2 mencapai 10.641.789 kiloton pada tahun 2018, yang artinya emisi karbon Cina hampir sekitar 30% dari total emisi global. Untuk mengatasi masalah ini, China telah didorong untuk menggunakan gas alam untuk memenuhi permintaan industri, yang lebih efisien dan lebih bersih daripada batubara.

Berikutnya adalah ambisi Rusia untuk bergabung dengan pasar batubara Asia. Ini adalah dampak domino dari menurunnya penggunaan batubara di sebagian besar negara Eropa. Penggunaan batu bara telah turun secara signifikan di Eropa akibat isu lingkungan, namun masih banyak negara Asia yang enggan menyerah sepenuhnya pada bentuk energi yang murah ini, yaitu batu bara. Presiden Rusia, Vladimir Putin mendorong perusahaan energi Rusia untuk menciptakan dan mengembangkan lebih banyak infrastruktur untuk memperluas pasar batubara globalnya, seperti yang ia katakan “Lingkungan bisnis saat ini memungkinkan Rusia untuk memperluas eksposurnya ke pasar batubara global, untuk memperkuat posisinya dan meningkatkan pangsa pasarnya ”. Ini akan mengarah ke pasar yang lebih kompetitif, karena ada pemain besar baru seperti Rusia. Pertanyaannya adalah, bagaimana jika ada lebih banyak batubara yang ditawarkan oleh eksportir daripada permintaan batubara itu sendiri? Itu akan menjadi penyebab paling masuk akal yang membuat  harga batubara turun.

Faktor terakhir adalah karena peralihan penggunaan batubara  ke sektor gas dan energi terbarukan di Uni Eropa secara besar-besaran. Hal ini dapat menjadi petunjuk bahwa mungkin era batubara akan berakhir, salah satu buktinya adalah pada semester pertama tahun 2019, penurunan tajam dalam penggunaan batubara untuk industri terjadi. Pembangkitan listrik dari sumber daya batubara turun hampir 20% di negara-negara Uni Eropa. Bahkan di Inggris, penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik turun 65% dari tahun lalu, dan negara itu berjanji untuk menyingkirkan batu bara sepenuhnya pada tahun 2025. Klaim dari organisasi nirlaba ‘Sandbag’ mengatakan, “Cara termudah dan tercepat untuk mencapai pengurangan substansial dalam Emisi CO2, adalah dengan menghilangkan penggunaan batubara ”. Ini menyimpulkan mengapa tidak banyak importir batubara yang tersisa di Eropa saat ini.

Beberapa perusahaan batubara di Indonesia memberikan usaha yang terbaik untuk tetap mencapai keuntungan dengan mengurangi biaya transportasi, meningkatkan kualitas batubara, menambah produksi, dan berbagai efisiensi lainnya.

Penulis : Mohammad Zola

Editor   : Mayang Sari

Berita serupa
Berikan Komentar

Kunjungi web Advertising kami !