Detail Berita


Batubara Terus Tertekan, Ini Yang Dilakukan Sejumlah Emiten Batubara


"Batubara"
Sumber gambar: shutterstock.com


Tanggal terbit: 04-11-2019

duniatambang.co.id - Komoditas batubara terus mengalami tekanan dan masih dalam masa suram. Hal ini bukan hanya dialami oleh emiten dalam negeri saja, melainkan dialami oleh sejumlah emiten dalam skala global.

Harga yang terus berfluktuatif bahkan cenderung turun membuat kinerja emiten batubara juga ikut tergerus. Bahkan tambang raksasa di Amerika serikat baru-baru ini mengumumkan bahwa emiten tersebut merugi. Sejumlah emiten kenamaan dalam negeri tak mau bernasib sama. Berbagai kebijakan telah mereka terbitkan untuk menopang kinerja perusahaan agar tetap berdiri tegak di tengah badai harga batuabara yang suram.

PT Bukit Asam (PTBA) misalnya per kuartal III 2019 hanya mampu membukukan laba sebesar Rp3,10 triliun atau turun 21,08% secara year-on-year (yoy). Sebagai emiten pelat merah, PTBA harus memutar otak untuk meningkatkan performa. Langkah yang diambil PTBA yaitu melakukan efisiensi biaya operasional terutama dalam hal transportasi atau pengangkutan. PTBA telah bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk menyelesaikan pengembangan proyek angkutan batubara jalur Tanjung Enim-Kertapati dengan kapasitas 5 juta ton per tahun.

PTBA juga melakukan optimalisasi perencanaan penambangan dan penjualan yang memberi margin lebih baik. Dengan menjual pada batubara kalori yang lebih tinggi dan harga yang lebih tinggi dapat menjadi peluang bagi PTBA untuk meningkatkan kinerja.

Selain itu, nasib buruk menimpa salah satu emiten batubara yang harus menelan kerugian. PT Indika Energy Tbk (INDY) mengalami kerugian sebesar US$ 8,6 juta pada September lalu. Untuk mengatasi hal ini, INDY akan berfokus pada stabilitas keuangan dan peningkatan produktivitas. Langkah yang diambil INDY selain melakukan efisiensi juga melakukan diversifikasi usahanya melalui bisnis tambang emas dengan menambah porsi kepemilikan 21,02% saham Nusantara Resources Limited .

Hal yang sama juga dialami oleh emiten batubara lainnya yaitu PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) yang akan meningkatkan produktivitas dan melakukan efisiensi sehingga berdampak pada keuntungan. Begitu pula dengan PT Bumi Resources Tbk. Pada kuartal III 2019, laba bersih BUMI tergerus 63% menjadi US$ 76,07 juta. Untuk meningkatkan performa, BUMI akan berfokus pada peningkatan volume, mengoptimalkan biaya (cost), memaksimalkan cash generation, dan fokus pada pembayaran utang. Dari sejumlah fakta di atas, nampaknya harga batubara yang masih terus terkoreksi membuat sejumlah emiten ketar-ketir menghadapi kondisi ini dan menaruh harap akan ada katalis positif untuk mengangkat harga batubara agar kembali meroket.

 

Penulis : Lia Ade Putri

Editor   : Hazred Umar Fathan

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !