Detail Berita


Batubara Labil, Produksi BUMA Tersendat


"Produksi BUMA tersendat"
Sumber gambar: shutterstock.com


Tanggal terbit: 21-10-2019

duniatambang.co.id - Harga batubara masih terus berfluktuatif membuat sejumlah emiten pertambangan batubara terkena dampak negatif akibat lesuhnya komoditas ini. PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) melalui entitas anak perusahaannya, PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), yang mengalami perlambatan produksi sejak September 2019. Pada September 2019, pengupasan tanah penutup atau overburden mengalami penurunan 4.5% dari 35,3 juta bcm menjadi 33,7 juta bcm.

Baca juga: Akhir Tahun, Pemerintah Naikkan Produksi Batubara Menjadi 530 Juta Ton

Tak cuma produksi yang tersendat, saham DOID sepanjang tahun 2019 terkoreksi cukup dalam sebesar 39,43%. Pada perdagangan Jumat (18/10) harga saham DOID berada di level Rp 318 per saham melemah 0,62%. Pada semester 1 2019, laba bersih DOID anjlok 77,73% lebih rendah periode yang sama 2018 menjadi US$ 4,07 juta.

Turunnya produksi overburden milik DOID dipengaruhi oleh harga batubara yang masih labil sehingga mempengaruhi kelanjutan produksi dari client yang menggunakan jasa DOID. Ketidakpastian harga batubara menjadi momok bagi kinerja DOID di tahun ini. Untuk itu, DOID terus meningkatkan utilisasi, pada tahun ini mereka mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 100 juta yang salah satunya dialokasikan untuk peremajaan alat berat. 

Selain belanja modal, DOID berfokus membidik perpanjangan kontrak dengan beberapa klien. Terdapat dua perpanjangan kontrak untuk jasa penambangan batubara di Site Binungan dengan Berau Coal dan perpanjangan kontrak dengan Kideco dengan kontrak jangka panjang atau bersifat kontrak sampai seumur tambang. Hingga tutup tahun 2019 ini, DOID berharap target produksi mereka dapat tercapai baik overburden removal maupun coal getting.

 

Penulis : Lia Ade Putri

Editor   : Mayang Sari

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !