Detail Berita


PR Berat Menteri Baru di Sektor Minerba



Tanggal terbit: 13-10-2019

duniatambang.co.id - Indonesia sedang memasuki fase transisi kepemerintahan. Berbagai pencapaian telah diraih sektor Minerba di bawah Menteri ESDM Ignasius Jonan - Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, namun bukan berarti tak ada pekerjaan rumah yang ditinggalkan. Migas dan minerba memang masih menjadi salah satu tumpuan bagi Indonesia terutama sebagai penyumbang Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Sejauh ini Jonan telah memberikan sumbangsih di bidang minerba antara lain, divestasi 51% saham Freeport, peningkatan nilai tambah dengan menyetop ekspor nikel, smelter mulai dibangun, meningkatkan nilai tambah batubara, hingga yang terbaru divestasi saham Vale 20% yang akan diakuisisi oleh MIND ID.

Menjelang penutupan masa jabatan ESDM mengumpulkan sejumlah pemain di sektor pertambangan dengan maksud mengevaluasi kembali 10 tahun berlakunya UU No. 4 Tahun 2009 dan melakukan inventarisasi masalah.

Tercatat sebanyak 13 masalah yang diinventarisasi antara lain Penyelesaian masalah antar sektor yaitu penguatan konsep wilayah pertambangan, memperkuat kebijakan peningkatan nilai tambah, mendorong kegiatan eksplorasi dan peningkatan deposit minerba. Selain itu, termasuk juga pengaturan khusus tentang izin penguasaan batuan, pengakomodir putusan MK dan UU No 23/2014, penguatan peran pemerintah dalam binwas kepada pemda, penguatan peran BUMN, perubahan KK/PKP2B menjadi IUPK, Izin pertambangan rakyat, lingkungan hidup, luas wilayah perizinan pertambangan,  dan jangka waktu IUP/IUPK.

13 poin di atas menjadi beberapa hal pokok pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah periode baru. Penyelesaian RUU Minerba hingga kepastian perpanjangan PKP2B.

Baca juga: Parah, Skor Sektor Tambang Indonesia Di Bawah Skor Asia Pasifik

Masalah krusial lainnya berkaitan dengan investasi dibidang minerba. Saat ini investasi di sektor minerba baru mencapai US$ 2,19 miliar atau 35,49% dari target yang dipatok yaitu US$ 6,17 miliar. Menurut Fitch Solution, sektor pertambangan Indonesia kurang kompetitif dibandingkan dengan sektor pertambangan di negara Asia Pasifik lain, hal ini disebabkan salah satunya karena ketidakpastian regulasi. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, agar pertambangan Indonesia tetap eksis di kancah internasional dan berdaya saing tinggi.

 

Penulis : Lia Ade Putri

Editor   : Mayang Sari

Berita serupa
Berikan Komentar

Kunjungi web Advertising kami !