image
Dunia Tambang / 2 October 2019 / 0 Komentar

Tambang Nikel Regulasi Fitch Sulution Asia Pasifik

Parah, Skor Sektor Tambang Indonesia Di Bawah Skor Asia Pasifik

duniatambang.co.id – Setelah gempar Uni Eropa akan buka opsi gugat Indonesia akibat pemberlakuan pelarangan ekspor nikel yang dipercepat per Januari 2020. Kini, kembali gempar dan menyedihkan Indonesia termasuk dalam deretan ranking sektor pertambangan yang lebih rendah di bandingkan skor sektor tambang Asia Pasifik.

Baca juga: Gara-Gara Nikel, Uni Eropa Buka Opsi Gugat Indonesia

Indeks daya saing pertambangan Asia Pasifik berada pada skor 40. Sementara Indonesia berada pada skor 20, jauh di bawah skor Asia Pasifik. Sektor tambang Indonesia masih kalah dengan China dan Malaysia.

Menurut Fitch Solution, sektor pertambangan Indonesia kurang kompetitif dibandingkan dengan sektor pertambangan di negara Asia Pasifik lain disebabkan oleh dua faktor. Yakni ketidakpastian regulasi dan sikap nasionalisme yang tinggi terhadap sumber daya alam Indonesia.

Regulasi yang tidak pasti telah membawa guncangan hebat terhadap sektor tambang Indonesia. Termasuk penghentian ekspor nikel yang akan diberlakukan per 1 Januari 2020 yang seharusnya diberlakukan pada 2022 mendatang. Akibat regulasi yang berubah-ubah ini membuat investor agak sungkan menanamkan modal di Indonesia.

Kemudian penyebab yang kedua adalah sikap nasionalisme yang tinggi terhadap sumber daya alam. Kebijakan divestasi membuat investor berpikir ulang jika harus berinvestasi di sektor tambang Indonesia. Dapat diambil contoh perusahaan asing yang menjual saham ke Indonesia seperti Newmont Mining.

Realisasi investasi pertambangan di Indonesia baik Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) fluktuatif dari tahun 2014 ke tahun 2019. Investasi pada tahun 2014 sebesar Rp 53,3 triliun, kemudian meningkat tipis pada 2015 senilai Rp 54,2 triliun. Lalu turun drastis menjadi Rp 43,6 triliun pada 2016 yang kemudian meningkat pada tahun 2017 senilai Rp 79,1 triliun dan turun tipis pada 2018 senilai Rp 73,8 triliun. Sepanjang tahun 2019 hanya tercatat sebesar Rp 30,2 triliun.

Sektor pertambangan menyumbang 8,08% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Sektor pertambangan berada pada urutan kelima setelah sektor Manufaktur, perdagangan, pertanian dan perkebunan, konstruksi.

 

Penulis : Mayang Sari

Editor   : Umar RP.

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar