Detail Berita


Menelisik Potensi Coal Bed Methane (CBM) di Indonesia



Tanggal terbit: 01-10-2019

duniatambang.co.id - Cadangan Coal Bed Methane (CBM) merupakan salah satu jenis hidrokarbon berupa gas berkomposisi utama metana yang tersimpan dalam reservoir batubara. Gas metana tersimpan dalam pori dan cleat batubara bersamaan dengan air. Bentuk CBM sama halnya dengan gas alam lainnya. CBM dapat dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga, industri kecil, hingga industri besar. CBM biasanya didapati pada tambang batu bara non-tradisional, yang posisinya di bawah tanah, di antara rekahan-rekahan batubara.

Cadangan Coal Bed Methane (CBM) Indonesia saat ini cukup besar, yakni 450 TCS dan tersebar dalam 11 basin. Potensi terbesar terletak di kawasan Barito, Kalimantan Timur yakni sekira 101.6 TCS, disusul oleh Kutai sekira 80.4 TCS. Berdasarkan data Bank Dunia, konsentrasi potensi terbesar terletak di Kalimantan dan Sumatera. Di Kalimantan Timur, antara lain tersebar di Kabupaten Berau dengan kandungan sekitar 8.4 TCS, Pasir/Asem (3 TCS), Tarakan (17.5 TCS), dan Kutai (80.4 TCS). Kabupaten Barito, Kalimantan Tengah (101.6 TCS). Sementara itu di Sumatera Tengah (52.5 TCS), Sumatera Selatan (183 TCS), dan Bengkulu 3.6 TCS, sisanya terletak di Jatibarang, Jawa Barat (0.8 TCS) dan Sulawesi (2 TCS).

Namun potensi tersebut belum banyak menarik investor untuk melakukan pengembangan pemanfaatan CBM, hal ini dikarenakan untuk melakukan pengembangan CBM diperlukan investasi yang cukup besar, tingkat keekonomisan CBM masih diragukan sehingga prospek untuk kembalinya nilai investasi yang dikeluarkan di awal cenderung sulit, teknologi pengembangan yang masih belum mumpuni, dan yang paling penting adalah harga batubara yang terus berfluktuasi mengakibatkan sejumlah perusahaan batubara lebih memilih untuk mengambil tindakan efisiensi.

Adaro Energy misalnya memilih untuk tidak mengembangkan CBM di Indonesia. Adaro lebih memilih untuk tetap mengembangkan batubara sebagai pembangkit listrik dikarenakan lebih ekonomis dibandingkan dengan pengembangan CBM ditengah fluktuasi harga batubara saat ini. Selain itu, bisnis CBM belum ekonomis terutama dari segi tingkat pengembalian investasi (Internal Rate of Return/IRR).

Di sisi lain China masih membuka kemungkinan untuk berinvestasi pada sektor pengembangan CBM di Indonesia, Kemungkinan investasi China pada sektor energi terutama pemanfaatan produksi gas metana batubara (Coal Bed Methane/CBM) sangat tergantung pada stabilitas perpolitikan Indonesia, regulasi dan iklim investasi yang ramah serta kondusif. 

Akankah dimasa mendatang CBM akan dikembangkan dan digodok secara serius di Indonesia?

 

Penulis : Lia Ade Putri

Editor   : Mayang Sari

Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !