Detail Berita


Balitbang ESDM Kaji PLTN Berbahan Bakar Thorium



Tanggal terbit: 27-09-2019

duniatambang.co.id - Desas-desus pembangkit listrik tenaga nuklir yang akan dikembangkan di Indonesia menuai banyak kontroversi. ESDM tidak tinggal diam dan terus membuat kajian tentang potensi pengembangan PLTN di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru saja menyelesaikan kajian atas pembangkit listrik berbahan bakar thorium milik Thorcon International Pte Ltd. ESDM memberi lampu hijau dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir milik Thorcon International Pte Ltd, lampu hijau ini baru menjadi pembuka jalan tahap awal pengembangan, namun kedepannya akan terus dilakukaan berbagai kajian.

Hasil kajian ESDM menjelaskan bahwa pembangkit setrum nuklir tersebut memenuhi persyaratan awal sesuai dengan aturan Undang-Undang (UU) Nomor 10/1997 tentang Ketenaganukliran, serta UU Nomor 17/2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005–2025. UU No. 10/2007 yang mengamanatkan penggunaan PLTN pada tahun 2025.

Namun disisi lain banyak pengamat cenderung melihat PLTN merupakan pilihan pembangkit paling akhir dari sekian banyak pilihan pembangkit tenaga listrik baik itu energi fosil maupun energi terbarukan. Hal itu didasari atas 3 faktor, yaitu:

1. Nuclear security culture

Nuclear security culture di Indonesia masih sangat rendah sehingga kekhawatiran terjadinya kebocoran reaktor atau kesalahan operasional PLTN sangat tinggi.. Kecelakaan Fukushima di Jepang memberikan trauma tersediri bagi masyarakat Indonesia atas ketidakpercayaan seandainya PLTN dioperasikan oleh SDM negeri ini.

2. Cost liability

Berdasarkan pengalaman jepang pasca terjadinya kecelakaan akibat PLTN akan menambah biaya yang sangat tinggi. Cost liability menambah jumlah biaya investasi pada pembangunan PLTN. Semakin tinggi biaya investasi maka harga listrik/KWH dari PLTN akan semakin mahal. Nampaknya hal ini akan membuat PLTN dinilai tidak ekonomis.

3. Aspek ekonomi dan profitability

Pembangunan PLTN tidak semata-mata didasarkan pada aspek ekonomi dan profitability, namun juga pertimbangan lain seperti aspek politik dan kebijakan Energi Nasional (KEN) sehingga keputusan pembangunan PLTN tetap menjadi opsi terakhir jika pada tahun 2025 pengembangan energi baru terbarukan tidak mencapai target 23%.

Pemerintah terus mendorong BATAN untuk melakukan berbagai penelitian dan kajian tentang potensi adanya PLTN di Indonesia dengan mempertimbangkan berbagai aspek terutama aspek keselamatan dan kesiapan Indonesia dalam memanfaatkan nuklir. Untuk saat ini pemerintah masih membuka jalan pengembangan PLTN berbarengan dengan terus dilakukannya penelitian mengenai PLTN sendiri.

 

Penulis : Lia Ade Putri

Editor   : Ocky P.

Berikan Komentar

Kunjungi web Advertising kami !