Loading...
image
Dunia Tambang / 26 September 2019 / 0 Komentar

Bauran Energi EBT 

Mampukah Indonesia Capai Target 23% Bauran EBT pada 2025?

duniatambang.co.id - Indonesia memiliki potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup menjanjikan. Contohnya potensi panas bumi sebesar 29.543.5 MW, angka itu membuat Indonesia menempati urutan kedua setelah Amerika Serikat sebagai negara dengan potensi energi terbarukan geothermal terbesar di dunia.

Baca juga: Pasang-Surutnya Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia

Fakta itu, membuat pemerintah Indonesia mulai membidik EBT. Pemerintah Indonesia juga ingin menunjukan komitmen Paris Agreement untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan EBT. Bahkan Indonesia menargetkan akan mencapai minimal 23% Bauran Energi Baru Terbarukan pada tahun 2025.

Untuk menunjukkan niat serius tersebut dan bentuk komitmen mencapai target bauran EBT 2025, pemerintah menerbitkan sejumlah kebijakan, mulai dari Permen ESDM Nomor 50 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Serta Permen ESDM Nomor 49 Tahun 2018 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Tenaga Surya Atap Oleh Konsumen PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Terdapat pula pada Kepmen ESDM No. 39 K/20/MEM/2019 tentang Pengesahan Rencana Umum Pembangkit Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2019-2028 pada Diktum Kelima.

Di sisi lain menurut PLN nampaknya agak sulit untuk melakukan proses pengembangan EBT. PLN menyatakan ada empat faktor yang menjadi pertimbangan perseroan dalam mengembangkan pembangkit listrik EBT, terutama PLTS, yakni mulai dari supplydemand, kesiapan sistem, dan biaya intermiten yang dibebankan ke PLN.  PLTG memerlukan ongkos produksi listrik tiga kali lebih mahal dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) untuk menghasilkan 1 kilowatt hour (kWh) listrik. Mahalnya biaya investasi nampaknya masih menjadi salah satu batu sandungan pengembangan EBT.

Melihat fakta di atas Indonesia masih akan menggigit jari, sejumlah pengamat cenderung pesimis akan tercapainya target bauran EBT 2025 sebesar 23%. Pemerintah menetapkan target tersebut dengan asumsi pertumbuhan ekonomi pada kisaran 7-8 persen. Kenyataannya, pertumbuhan ekonomi nasional bergerak stagnan di angka 5 persen setiap tahun. Pertumbuhan ekonomi juga menjadi batu sandungan karena berkaitan dengan biaya investasi pengembangan EBT. Bauran EBT hingga kini baru mencapai 13%. Sebagai contoh panas bumi yang ditargetkan sebanyak 6.3 GW per 2025 hingga kini baru tercapai 2 GW.

Lalu untuk pembangkit tenaga surya, Indonesia hanya memiliki 928 MW dari target 6.500 MW sampai 2025. Kondisi pahit ini membuat target Indonesia mencapai bauran energi baru terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025 dihantui kegagalan.

 

Penulis : Lia Ade Putri

Editor   : Mayang Sari

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar