Detail Berita


Metode Fracking pada Geothermal dinilai berbahaya, Benarkah?



Tanggal terbit: 11-09-2019

duniatambang.co.id - Energi Geothermal atau panas bumi merupakan energi yang digadang-gadang sebagai energi yang relatif ramah lingkungan. Indonesia adalah negara dengan jumlah potensi energi panas bumi terbesar mencapai 40% total potensi dari seluruh dunia. Berdasarkan data Kementerian ESDM, setidaknya terdapat 299 lokasi panas bumi dengan total 28.207 MW.

Baca juga: Pasang-Surutnya Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia

Isu perubahan iklim mengubah paradigma banyak negara termasuk Indonesia. Selain ramah lingkungan, kebijakan energi terbarukan bertujuan untuk mengurangi secara bertahap ketergantungan energi fosil.

Salah satu metode yang populer pada pemanfaatan energi geothermal adalah Hydraulic Fracturing (Fracking), benarkah metode tersebut berbahaya? Mari mengenal metode Fracking!

Dalam beberapa kasus proyek energi panas bumi terdapat kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas alami sebuah sistem geothermal  atau yang disebut Enhanced Geothermal System (EGS). Hal ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan permeabilitas batuan dan volume fluida yang berada dalam siklus.

Hydraulic fracturing sering kali digunakan jika berhadapan dengan reservoir (batuan sarang tempat fluida dibawah tanah) yang panas tetapi memiliki permeabilitas yang rendah, maka para engineer melakukan rekayasa teknik.  Fracking merupakan teknik stimulasi sumur yang mana lapisan batuan dibawah diretakkan dengan fluida cair bertekanan tinggi. Penambangan energi dengan menggunakan fracking dinilai dapat menyebabkan gempa bumi minor, pencemaran air, thermal pollution, dan juga amblesan di sejumlah titik.

Seperti yang diketahui metode fracking memerlukan air dalam jumlah besar untuk keperluan proses injeksi bersamaan dengan material lainnya sehingga hal tersebut dapat menyebabkan kelangkaan air pada daerah sekitar penambangan.  Selain itu, cairan limbah fracking terdiri dari berbagai kandungan bahan kimia sehingga limbah tersebut perlu penanganan khusus agar tidak mencemari lingkungan terutama pencemaran terhadap air permukaan dan air tanah.

Metode fracking juga dinilai dapat menjadi trigger terjadinya gempa bumi minor. Ada beberapa kasus gempa bumi minor yang dipicu proyek energi geothermal. Kasus Basel pada tahun 2006, lapangan Geyser Amerika Serikat, Cooper Basin di Australia, dan Soultz-sous-Foréts, Perancis. Magintude gempa bumi minor yang terjadi dalam range 2-4 skala Richter.

Keberadaan fracking sebagai salah satu pemicu terjadinya gempa bumi minor dalam sebuah EGS, sangat pantas untuk dipertimbangkan. Apalagi, dalam konteks Indonesia, gempa bumi minor sangat mungkin dengan cepat berubah menjadi gempa bumi mayor karena pada dasarnya sebagian besar wilayah Indonesia berada pada region yang sangat aktif secara tektonik.

 

Penulis : Lia Ade Putri

Editor  : Mayang Sari

Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !