Detail Berita


Berbeda dengan Batubara, Harga Nikel Melambung 16 Persen



Tanggal terbit: 10-09-2019

duniatambang.co.id – Harga batubara memasuki masa suram sejak dua tahun terakhir. Pengusaha resah dan harus mengambil strategi untuk menjaga kinerja keuangan perusahaan dengan melakukan kegiatan efisiensi atau meningkatkan jumlah produksi. Berbeda halnya dengan batubara, harga nikel justru menunjukkan tren yang positif.

Baca juga: Pelarangan Ekspor Berlaku 1 Januari 2020, Harga Nikel Melesat

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)  menetapkan Harga Mineral Acuan (HMA) untuk nikel bulan September sebesar US$ 14.940/dmt. Dibandingkan dengan bulan Agustus meningkat sebesar 16 persen dari US$ 12.832,73/dmt.

Harga nikel mulai meningkat dari Februari sebesar US$ 11.046,05/dmt menjadi US$ 12.249,32/dmt pada bulan Maret, kemudian terus meningkat pada bulan April sebesar US$ 13.029,50/dmt. Namun, pada bulan April turun tipis menjadi US$ 13.000,91/dmt dan terus turun pada bulan Juni senilai US$ 12.100,00/dmt. Kemudian menyusut menjadi US$ 11.874/dmt pada bulan Juli.

Peningkatan harga nikel ini dipicu kebijakan pelarangan ekspor nikel melalui Peraturan Menteri ESDM RI Nomor 11 Tahun 2019 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor Tahun 2018 Tentang Pengusahaan Pertambangan Mineral dan Batubara.

Hilirisasi mineral khususnya nikel kian digalakkan. Pemerintah juga telah menerbitkan regulasi terkait denda administrasi bagi pengusaha yang belum menyelesaikan pabrik pengolahan dan pemurnian dalam jangka waktu tertentu. Hal ini membuat pengusaha harus mengebut penyelesaian pabrik smelter dengan cepat ditambah dengan kendala biaya yang tinggi.

Baca juga: Terlambat Bangun Smelter, Pengusaha Siap-Siap Kena Denda

Tujuan lain dari pelarangan ekspor nikel ini adalah untuk memenuhi pasokan bahan baku komponen mobil listrik yang juga telah dikeluarkan regulasinya. Indonesia diharapkan menjadi pelopor mobil listrik yang mampu menyaingi mobil listrik dari luar negeri.

Indonesia sebagai salah satu eksportir nikel terbesar dunia membuat investor asing banyak melirik pengembangan pabrik smelter di Indonesia. Meski pelarangan ekspor nikel mulai berlaku 01 Januari 2020, Indonesia belum memiliki indeks resmi untuk menetapkan harga nikel. APNI (Asosiasi Penambang Nikel Indonesia) berharap Indeks Nikel Indonesia (INI) segera diresmikan agar harga nikel Indonesia tidak di bawah harga acuan LME (London  Metal Exchange). Saat ini pemerintah masih menggunakan bursa LME, Asian Metal, ICDX, untuk menghitung Harga Mineral Logam Acuan (HMA).

 

(MS)

Berita serupa
Berita Populer
Berikan Komentar

Kontak Informasi Dunia Tambang:

Kunjungi web Advertising kami !