Detail Berita


Dua Belas Strategi Ampuh Perkembangan Pertambangan di Indonesia



Tanggal terbit: 19-08-2019

duniatambang.co.id – Pertambangan khususnya komoditi seperti batubara dan nikel dapat menjadi salah satu pembebas Indonesia yang kini kian tercekik dengan status finansial yang defisit pada sektor energi.  Pasalnya di zaman transisi ke Energi Baru Terbarukan atau EBT, batubara masih dibutuhkan sebagai sumber energi listrik. Sementara itu, nikel sebagai bahan baku baterai merupakan masa depan pertambangan Indonesia. Kedua komoditi ini dapat menjadi pengganti BBM (Bahan Bakar Minyak) dalam perannya sebagai salah satu primadona sektor energi yang mulai meredup.

Baca jugaDua Belas Strategi Ampuh Perkembangan Pertambangan di Indonesia

Besarnya angka impor BBM dibandingkan dengan produksi menjadi “pencekik” status finansial dari sektor energi. Kondisi ini mendorong IMEF (Indonesia Mining and Energy Forum) untuk mengadakan diskusi publik dengan topik Implementasi KEN dan RUEN 2020-2025.

Ditemui di acara IMEF, Prof. DR. Irwandy Arif, Direktur Indonesia Mining Institute, menuturkan dua belas solusi yang dapat membantu pengembangan pertambangan di Indonesia, berikut 12 solusi versi dari Professor Irwandy:

  1. Revisi UU Minerba No.4 Tahun 2009 yang meliputi penyelesaian kebijakan yang belum selesai;
  2. Pembuatan Road Map pertambangan Indonesia yang terintegrasi dengan Kementrian Perindustrian;
  3. Pengembangan eksplorasi diperlukan untuk peningkatan jumlah IUP (Izin Usaha Pertambangan)  baru;
  4. Pengembangan CP (Competent Person) di Indonesia untuk mewadahi assessor pertambangan rakyat;
  5. Integrasi rencana pertambangan nasional dengan rencana pembangunan nasional agar dapat saling support;
  6. Memperbesar produksi batubara;
  7. Mengontrol wewenang Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah agar tidak terjadi penyelewengan wewenang dalam sektor pertambangan;
  8. Dilakukan manajemen dampak lingkungan dan sosial;
  9. Perhitungan detail mengenai keteknikan dan keekonomian prospek pertambangan;
  10. Pengendalian kuota ekspor komoditi pertambangan;
  11. Adanya direktorat khusus untuk tambang rakyat;
  12. Dibentuk mining cadastre dengan pembuatan third party untuk memberikan masukan ke pemerintah dan penguatan Badan geologi langsung dibawah presiden.

Beliau juga memaparkan bahwa transaksi dalam sub-sektor pertambangan meningkat tetapi tidak cukup untuk menutupi neraca defisit migas. Batu bara menyumbang nilai ekspor sekitar 14,9% dari total ekspor sektor energi. Pencapaian transaksi batubara ini menjadi salah satu benchmark pertambangan dalam kontribusinya untuk pemasukan negara.

Kontribusi pertambangan dalam masa transisi ini merupakan hal yang krusial baik secara keteknikan maupun keekonomian bagi Indonesia. Diperlukan terobosan – terobosan untuk mendongkrak pertambangan Indonesia agar menjadi tiang penopang yang dapat menggantikan peran BBM di Indonesia.

(FPL)

Berikan Komentar

Kunjungi web Advertising kami !