image

"Tambang Batubara di China"
Sumber gambar: gettyimages.com

Dunia Tambang / 15 November 2022 / 0 Komentar

Batubara Emiten Tambang Indonesian Coal Index 2023 

Melirik Prospek Emiten Tambang Batu Bara Tahun Depan

duniatambang.co.id Sejumlah emiten tambang batu bara pada tahun ini bisa dibilang mengalami kinerja yang apik. Mereka ramai-ramai mencatatkan laba bersih yang naik cukup signifikan, jumlahnya bahkan mencapai ratusan persen. Sebut saja di antaranya adalah PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Bayan Energy Tbk (BYAN) dan juga PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Terkait kondisi ini, tanggapan datang dari CEO Edvisor.id, yakni Praska Putrantyo yang menilai bahwa kinerja keuangan sejumlah emiten tambang batu bara, diyakini masih akan terus bergerak positif sampai dengan akhir tahun ini. Naiknya harga beberapa komoditas tambang jika dibandingkan dengan tahun lalu, menjadi faktor pendukung naiknya pendapatan perusahaan tambang di sektor terkait. Belum lagi sampai sekarang belum ada tanda-tanda kapan perang antara Rusia dan Ukraina akan berakhir, yang berpengaruh pada terjadinya krisis energi di sejumlah negara Eropa.

Akan tetapi pada tahun depan, diperkirakan pertumbuhan kinerja emiten batu bara bakal kembali ke kondisi normal. Memang ada kenaikan, namun levelnya tidak sebanyak seperti pada tahun 2021 dan 2022 ini. Hal ini mempertimbangkan akselerasi harga komoditas yang mulai melandai, yang sejalan dengan pihak The Fed yang telah mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan suku bunga yang agresif. Ada juga ancaman resesi ekonomi global, yang mampu memicu terjadinya penurunan harga sejumlah komoditas tambang, dan bahkan akan membuatnya tertekan.

Sementara itu penilaian sedikit berbeda dilontarkan Analis Sucor Sekuritas, Andreas Yordan Tarigan yang memperkirakan bahwa harga komoditas tambang, khususnya batu bara masih akan tetap tinggi. Kondisi ini didorong oleh adanya sanksi ekspor batu bara Rusia yang membuat permintaan komoditas tersebut masih tinggi, apalagi sepanjang musim dingin nanti.

Kemudian, terjadi juga kesenjangan antara harga di Indonesian Coal Index (ICI) dengan harga batu bara di pasar Newcastle, yang terlihat semakin melebar. Penyebabnya juga sama, yakni karena harga batu bara Rusia yang lebih murah dan membanjiri pasar Cina dan India.

“Meski ekspor Rusia ke Cina dan India mengalami peningkatan drastis, namun diyakini Rusia saat ini sudah mencapai kapasitas maksimal distribusi, akibat dari keterbatasan transportasi ke Asia,” terang Andreas.

 

 

 

Penulis: Edo Fernando

Editor: Ocky PR.

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar