image

"Tambang Batubara di Scotland, UK."
Sumber gambar: gettyimages.com

Dunia Tambang / 29 August 2022 / 0 Komentar

Harga Batubara Batubara Transisi Energi 

Harga Batu Bara Yang Tinggi, Mampu Dorong Percepatan Transisi Energi di Indonesia

duniatambang.co.id - Harga batu bara global telah mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah, menyusul sejumlah negara di Eropa yang berhenti membeli batu bara dari Rusia sebagai sanksi atas invasi ke Ukraina. Perusahaan batu bara Indonesia menjadi salah satu pihak yang mendapatkan durian runtuh dari kondisi ini, dengan delapan perusahaan melaporkan realisasi harga batu bara yang tinggi, termasuk laba bersih dan arus kas operasional untuk tahun 2021 dan kuartal pertama 2022.

Meski demikian, perusahaan-perusahaan batu bara ini tidak serta merta melakukan peningkatan kapasitas produksi, dengan beberapa pengecualian, di mana belanja modal atau Capital Expenditure (Capex) diutamakan untuk pemeliharaan dan juga dialokasikan ke proyek-proyek non-batu bara. Pengecualian utama adalah proyek Dimetil Eter (DME) yang dilakukan oleh PT Bukit Asam Tbk (PTBA), namun proyek itu sendiri masih menyisakan kendala seperti pendanaan yang tidak pasti yang telah dilaporkan oleh IEEFA pada tahun 2020 lalu.

Dalam laporan tersebut, IEEFA menyoroti bahwa harga batu bara kemungkinan akan tetap tinggi, mengingat perubahan arus perdagangan yang disebabkan oleh konflik. Karena adanya gangguan jadwal pengiriman, Korea dan Jepang cenderung mengurangi pasokan batu bara dari Rusia, dan menggantinya dengan batu bara dari Indonesia dan Australia. Sehingga harga batu bara kemungkinan akan tetap tinggi.

Untuk jangka panjang, arus perdagangan baru kemungkinan akan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan, bahkan setelah konflik usai. Oleh karenanya, harga batu bara akan cenderung mengikuti tren selama proses penyesuaian tersebut.

Bahkan jika Cina mengakhiri larangan tidak resminya atas impor batu bara Australia, hal itu tidak akan membantu mengurangi tekanan pasokan. Sebab, sudah ada pembeli batu bara Australia sejak larangan itu diberlakukan. Harganya yang lebih tinggi kemungkinan bisa membuatnya akan dikeluarkan dari pasar Cina.

Apabila ada resolusi dari konflik yang sedang terjadi, ditambah dengan komitmen Uni Eropa untuk mendekarbonisasi, harga batu bara kemungkinan akan kembali ke angka normal dari level saat ini dalam jangka panjang. Perusahaan batu bara tidak boleh melewatkan kesempatan yang ada sekarang ini untuk melakukan diversifikasi dari batu bara, sebelum biaya transisi menjadi lebih tinggi.

 

 

Penulis: Edo Fernando

Editor: Ocky PR.

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar