Detail Berita


Hilirisasi Mineral Tampak Lancar, Begini dengan Batubara



Tanggal terbit: 30-07-2019

duniatambang.co.id - Hilirisasi dimaksudkan untuk meningkatkan nilai tambah dari hasil produk tambang terutama mineral dan batubara. Saat ini, hilirasasi mineral mulai menunjukkan perkembangan yang pesat terbukti dengan banyaknya pabrik smelter yang dibangun. Berbeda dengan mineral, hilirisasi batubara masih banyak kendala yang membuat hilirisasi batubara menjadi terhambat.

Baca juga: Penambang Nikel ‘Happy’, Tiga Smelter Nikel Dipastikan Beroperasi Tahun Ini

Sebetulnya, kebijakan hilirisasi atau Peningkatan Nilai tambah (PNT) ini dilatarbelakangi oleh keresahan bangsa ini melihat berbagai produk impor hasil olahan tambang sendiri membanjiri pasar domestik. Bahan baku material tambang dijual ke ke luar negeri dengan harga murah. Sementara, saat masuk lagi ke dalam negeri berupa barang jadi memiliki harga yang berkali-kali lipat.

Hilirisasi batubara telah mulai diupayakan. Contoh produk hilirisasi batubara yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 adalah briket dan gasifikasi batubara. Sayangnya, pengembangan briket masih terkendala permintaan yang rendah dan membutuhkan waktu yang kama untuk penyalaan. Untuk gasifikasi batubara, PT Bukit Asam sudah mulai melakukan tahap pengembangan.

Batubara terkenal dengan polusinya, ternyata terdapat teknologi yang dapat menjadikan batubara lebih bersih. Salah satu solusinya adalah batubara go green dengan supercritical clean technology yang merupakan boiler dengan toleransi tekanan yang lebih tinggi (3.200 pdi/22 Mpa).  Dengan demikian, hanya membutuhkan lebih sedikit batubara per megawatt/jam.

Kekurangannya, pengembangan batubara go green masih terdapat beberapa tantangan yaitu penurunan kualitas batubara, kenaikan tarif harga pengguna listrik, pengetatan standar global, dan nasional lingkungan yang dikutip dari researchgaet.net.

 

(MS)

Berita serupa
Berikan Komentar

Kunjungi web Advertising kami !