image

"Indonesia Morowali Industrial Park"
Sumber gambar: https://imip.co.id/tentang-imip/

Dunia Tambang / 15 November 2021 / 0 Komentar

Nikel IMIP 

Fakta Di Balik IMIP, Raksasa Nikel Nomor Satu Tanah Air

duniatambang.co.id - Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) bisa dibilang adalah sebuah fenomena. IMIP dalam kurun waktu empat tahun saja mampu mengubah arus persaingan produsen nikel olahan, menyalip PT Vale Indonesia Tbk, dan PT Aneka Tambang Tbk yang sebelumnya menjadi penguasa produksi nikel tanah air.

Menurut praktisi tambang Arif S. Tiammar sebenarnya Vale Indonesia dan Aneka Tambang telah lama memiliki rencana untuk mengembangkan kapasitas produksi nikel olahan mereka. Sayangnya mereka tidak bergerak cepat, sehingga dominasi kedua perusahaan itu digeser oleh IMIP yang lebih agresif.

“Aneka Tambang maupun Vale sebenarnya telah lama memiliki rencana akan pengembangan kapasitas produksi, namun keputusan eksekusi selalu mengalami hambatan dengan beragam alasan. Kedua perusahaan itu butuh waktu lama dan persetujuan yang panjang guna mengeluarkan keputusan lewat jalur birokrasi,” kata Arif.

Hal yang berbeda terjadi pada IMIP, di mana perusahaan tersebut mendapatkan dukungan penuh dari investor asal Cina, yakni Tsingshan Group. Keputusan eksekusi rencana pun diambil dengan cepat, di mana setelah melakukan sejumlah evaluasi, keputusan diambil oleh pemegang saham terbesar, yaitu Tsingshan Group.

Di sisi lain, pengembangan produk nikel dari perusahaan-perusahaan tersebut memiliki tipikal yang jauh berbeda. Vale Indonesia dan Aneka Tambang, keduanya berawal dari produsen tambang sampai penghasil produk turunan. Sementara Tsingshan Group berangkat sebagai perusahaan pengolahan baja. Sehingga perusahaan asal Cina itu begitu memahami alur kebutuhan nikel dan pasarnya.

Faktor pembeda utama lainnya juga berasal dari besaran modal yang dimiliki. Pasalnya, industri smelter membutuhkan dana yang sangat besar untuk bisa berkembang dengan baik dan cepat. IMIP memiliki penyokong dana lewat skema pinjaman yang murah, sementara Vale Indonesia dan Aneka Tambang memiliki masalah yang lebih pelik dalam hal pendanaan.

Industri di hilir nikel akan menjadi semakin kompetitif dengan peluang yang lebih menjanjikan. Sayang, produk yang dihasilkan sekarang ini oleh sejumlah smelter di Indonesia masih dalam bentuk produk setengah jadi. Dari jenis kemurniannya, sebagian besar adalah nikel kelas dua, sementara untuk nikel kelas satu masih minim jumlahnya.

Meski demikian, pembangunan smelter nikel di Indonesia kini mulai beragam, di mana setidaknya ada enam perusahaan yang akan mendirikan smelter nikel High Pressure Acid Leaching atau HPAL. Ini termasuk MIND ID yang menyiapkan smelter HPAL yang terintegrasi dengan industri baterai kendaraan listrik serta penyimpanan energi listrik.

 

Penulis: Edo Fernando

Editor: Faris Primayudha

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar