image

"Baja"
Sumber gambar: gettyimages.com

Dunia Tambang / 9 November 2021 / 0 Komentar

Mineral Baja 

Indonesia Masih Bergantung pada Impor Baja

duniatambang.co.id - Peningkatan kebutuhan baja dalam negeri masih dipasok dari luar negeri. Pada 2020, produksi baja Indonesia sekitar 13 juta ton, sedangkan kebutuhan baja mencapai 15 juta ton. Selisih kebutuhan ini dipenuhi oleh impor sebanyak 2 juta ton. Hal ini terungkap dalam webinar Grand Strategy Komoditas Minerba ke-2 yang diadakan oleh Asosiasi Profesi Metalurgi Indonesia (Prometindo) bekerjasama dengan Ditjen Minerba pada Kamis, 4 November 2021.

Ketua Pokja Konservasi Minerba Ditjen Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Donny simorangkir mengungkapkan, kebutuhan baja di Indonesia terus meningkat. Namun utilitas industri baja nasional masih rendah, yakni sekitar 57%. Tingkat utilisasi yang ideal untuk industri yang menguntungkan dan berkelanjutan adalah diatas 80%.

“Guna meningkatkan utilisasi sebaiknya impor harus dibatasi untuk mengurangi defisit dan tingkat konsumsi. Ditambah harga dari luar negeri yang cuku bersaing, menjadi sulit bagi kita untuk tidak impor,” ungkap Donny.

Tantangan yang dihadapi dalam pengembangan komoditas besi menjadi industri hilir seperti baja tidak hanya terletak pada sisi hilirnya saja. Berbeda dengan komoditas lainnya dimana sisi hulunya telah berkembang, namun di sisi komoditas besi, sisi hulu masih menjadi tantangan. Sumber daya dan cadangan pasir besi di Indonesia belum terukur dengan optimal.

“Sisi lainnya dalam pengolahan bijih besi menjadi produk antara. Di Indonesia, masih sedikit industri yang mengolah komoditas bijih besi. Ini juga menjadi tantangan tersendiri, mulai dari sumber daya manusia maupun teknologi dan investasi,” tambah Donny.

Selain masih mengimpor produk baja siap pakai, Indonesia juga masih mengimpor besi daur ulang atau scrap besi dengan nilai mencapai US$ 860 juta pada 2019. Kebutuhan scrap besi akan terus ada dikarenakan besi baja dapat di daur ulang berkali-kali tanpa mengurangi kualitas. Keuntungan lainnya, energi yang dibutuhkan setengah dari kebutuhan energi untuk membuat besi dari bahan baku primer.

Dalam diskusi yang dibuka langsung oleh ketua umum Prometindo Bouman Tiroi Situmorang, semua panelis yang terdiri dari para praktisi mendorong agar industri hulu komoditas bijih besi dapat dioptimalkan. Komisaris Independen PT Vale Indonesia Tbk R. Sukhyar mengetahui banyak IUP besi di Indonesia yang sudah berproduksi dan ke mana produk itu dipasarakan. Senada dengan Sukhyar, Robby Irfan Rafianto selaku Head of Exploration Harita Group juga menekankan akan pentingnya pengukuran sumber daya dan cadangan komoditas bijih besi. Robby berharap industri hulu bijih besi dapat berkembang dan mendukung industri hilirnya.

Direktur Produksi PT Krakatau Steel Djoko Mulyono mengharapkan optimalisasi penggunaan baja dalam negeri. Peningkatan utilisasi menjadi sangat diperlukan guna mendorong perkembangnya Industri baja nasional. Tantangan terbesar yg harus kita atasi sisi Hulu adalah cadangan kita scattered untukk memproduksi skala ekonomi dari tempat yang tersebar sulit layak apalagi utk supply skala industri baja eksisting. (*)

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar