image

"dump truck"
Sumber gambar: gettyimages.com

Dunia Tambang / 1 November 2021 / 0 Komentar

K3 & Lingkungan Energi 

Perusahaan Logam dan Pertambangan Beradaptasi ke Pasar Yang Lebih ‘Hijau’

duniatambang.co.id - Sektor pertambangan adalah produsen sekaligus konsumen sumber daya energi yang sangat besar. Mereka menggali bahan mentah dan mengubahnya, melalui proses intensif energi yang tinggi, menjadi fitur modern dari lingkungan buatan. Dengan demikian, hal itu juga menciptakan sekitar seperempat dari emisi yang dilaporkan dari 12.000 perusahaan terbesar di dunia. Seperti halnya sektor-sektor lain yang sulit ditekan emisinya, menurunkan profil emisi pertambangan secara signifikan akan sangat penting untuk langkah dekarbonisasi ekonomi global.

BloombergNEF baru saja merilis skor transisi model bisnis pertamanya untuk 53 perusahaan pertambangan besar. Skor tersebut mengukur risiko setiap perusahaan dari profil emisi mereka saat ini, dan kesiapan bisnis mereka untuk dekarbonisasi secara lebih mendalam.

Hasilnya menyoroti di bagian mana perusahaan akan bergerak cepat dan di mana mereka akan melambat, dan yang penting, menciptakan perbedaan antar perusahaan, bagi investor yang tertarik untuk menilai perusahaan pada upaya transisi mereka.

Skor BNEF disajikan dalam dua bagian. Yang pertama adalah risiko model bisnis yaitu, seberapa besar perusahaan dihadapkan pada permintaan untuk produknya yang menyusut (atau tumbuh) dalam skenario nol emisi bersih, intensitas emisi produknya, dan kekuatan tekanan para pemangku kepentingan untuk bertindak.

Yang kedua adalah adaptasi model bisnis yaitu, strategi perusahaan untuk menyelaraskan portofolionya dengan tren net-zero, atau seberapa mudahnya menghasilkan produk rendah karbon dibandingkan dengan perusahaan lain, skala teknologi dekarbonisasi yang dimilikinya saat ini, dan penggabungannya risiko iklim ke dalam pengambilan keputusan manajemen.

Temuan ini tampaknya cukup instruktif. Sebagian besar perusahaan itu adalah perusahaan top yang berbasis di Eropa, berkat kebijakan yang mendorong atau memaksa perusahaan untuk mengurangi emisi secara signifikan. Hanya ada tiga perusahaan di luar Eropa yang masuk dalam Top 10 yakni, Codelco di Chili, Tata Steel di India, dan BHP di Australia.

Investasi dalam teknologi, bersifat prediktif. Kehadiran program teknologi rendah karbon penting untuk bisa mendapatkan skor tinggi. Program-program tersebut mencakup upaya seperti kapasitas daur ulang logam, penggunaan listrik terbarukan, proyek untuk memanfaatkan hidrogen sebagai pengganti batu bara atau gas guna proses pembakaran dan kimia, dan inisiatif penangkapan, penggunaan, dan penyimpanan karbon.

Dengan cara yang hampir sama, intensitas produksi listrik juga dapat menjadi keunggulan kompetitif di masa depan. Norsk Hydro dan ArcelorMittal keduanya menghasilkan produk akhir yang sangat intensif listrik, dan keduanya mengembangkan sumber listrik rendah atau nol karbon untuk digunakan dalam proses produksi mereka.

Keterlibatan pelanggan juga penting. Sasaran nol bersih di antara pembuat mobil dan pembeli logam besar lainnya berimplikasi pada keberadaan para pemasok mereka yakni, perusahaan logam dan pertambangan. Dari perusahaan yang diteliti, lebih dari sepertiga telah mengungkapkan sejumlah besar pelanggan dengan target dekarbonisasi rantai nilai mereka sendiri. Produsen logam khususnya akan menemukan bahwa mereka perlu mengirimkan logam rendah karbon, atau berisiko bakal kehilangan klien.

Ukuran juga penting. Perusahaan yang lebih besar mendapat skor lebih tinggi daripada perusahaan yang lebih kecil. Alasannya cukup sederhana, karena perusahaan besar kemungkinan besar lebih mampu membiayai kegiatan dekarbonisasi menggunakan sumber daya mereka sendiri, atau melalui akses mereka ke pendanaan pasar modal.

Perusahaan dengan skor tertinggi untuk setiap jenis logam sangat fokus pada satu produk dan satu segmen. Norsk Hydro hanya memproduksi aluminium, ArcelorMittal mendapat 95% pendapatan dari pembuatan baja, Codelco mendapatkan lebih dari 90% pendapatan dari penambangan tembaga. Rio Tinto mendapatkan hampir 60% pendapatannya dari bijih besi, dan 20% lainnya dari aluminium.

Sementara perusahaan dengan skala yang lebih kecil memiliki kemampuan untuk mengasah teknologi dan produk tertentu, sehingga membedakan diri mereka dari kompetitor.

Perusahaan yang terdiversifikasi mungkin memiliki neraca yang besar berkat menjual banyak produk di banyak pasar, tetapi mereka juga harus beradaptasi dalam berbagai tindakan yang lebih luas untuk menghilangkan karbon. Hanya Anglo American, dengan pendapatan yang dibagi rata antara logam kelompok platinum, bijih besi, dan tembaga, yang merupakan outlier di antara pemain top.

Di sisi lain, perusahaan pertambangan memiliki rentang skor transisi BNEF yang paling luas. Luasnya itu memberi investor banyak hal untuk diperiksa, ketika mempertimbangkan peran penambang di masa depan yang sangat ter-dekarbonisasi. Yakni apa yang mereka hasilkan, bagaimana mereka melakukannya, dengan teknologi dan inovasi apa yang direncanakan, dan akhirnya, dengan tingkat komitmen apa untuk mempersiapkan diri mereka di masa depan.

 

Penulis: Edo Fernando

Editor: Umar RP.

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar