image

"dump truck"
Sumber gambar: gettyimages.com

Dunia Tambang / 4 October 2021 / 0 Komentar

International China 

Cina Ngebut Kejar Transisi Pertambangan dan Industri Logam

duniatambang.co.id - Cina telah menetapkan target nasional untuk mencapai puncak karbon pada tahun 2030 dan netralitas karbon pada tahun 2060. Hal ini pun memberikan dorongan aktif ke sektor pertambangan negara tersebut untuk mengejar transisi industri dan mencapai rencana produksi rendah karbon

Pada saat yang sama, dorongan untuk memastikan pasokan logam kritis yang berkelanjutan untuk tahap selanjutnya dari pembangunan Cina terus berlanjut.

Pada bulan Maret 2021, China meluncurkan Rencana Lima Tahun (FYP) ke-14 (2021–2025) untuk Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional dan Tujuan Jangka Panjang Sepanjang Tahun 2035. FYP ke-14 menegaskan target nasional puncak karbon pada tahun 2030 dan netralisasi karbon pada tahun 2060, seperti yang telah diumumkan oleh Presiden Xi Jinping pada pertemuan puncak PBB mengenai perubahan iklim pada Desember 2020.

Untuk mencapai tujuannya, FYP ke-14 menyerukan pengembangan energi bersih yang lebih besar termasuk tenaga angin, fotovoltaik, tenaga air dan tenaga nuklir, reformasi struktural dan penghapusan kapasitas lama dalam industri yang mengkonsumsi energi tinggi seperti baja, petrokimia dan kimia. FYP ke-14 juga meminta industri utama dan perusahaan utama untuk memimpin dalam rencana mencapai puncak karbon.

Pada April 2021, Asosiasi Industri Logam Non Ferrous Cina (CNMIA) merilis rancangan rencana implementasi puncak karbon untuk industri non ferrous. Rencana tersebut menargetkan bahwa pada tahun 2025 menjadi puncak karbon untuk industri, lima tahun lebih awal dari target nasional.

CNMIA mengantisipasi pengurangan dari sektor aluminium dan pembuatan baja bakal mendukung pencapaian target tersebut. Aluminium Corporation of China (Chinalco), yang merupakan produsen alumina terbesar kedua dan produsen aluminium terbesar ketiga secara global, mengumumkan rencana untuk mengurangi emisi karbon sebesar 40 persen pada tahun 2035 dan mencapai emisi puncak sebelum tahun 2025.

Sementara Baowu Steel, salah satu produsen baja terbesar di dunia, menargetkan puncak karbon pada tahun 2023 dan netralitas karbon pada tahun 2050.

Di sektor pertambangan, optimalisasi struktur energi melalui peningkatan penggunaan energi terbarukan merupakan tren yang sedang berkembang. Menurut Chinalco, sekitar 50 persen dari total produk aluminium elektrolitik-nya pada tahun 2020 sudah diproduksi dengan energi hijau.

Chinalco juga mengintensifkan upaya untuk menutup jalur produksi lama dan mengurangi emisi polutan serta pembuangan limbah di seluruh pabriknya di Cina, setelah mencapai penurunan tahunan masing-masing sebesar 10,92 persen dan 67,06 persen dalam hal emisi sulfur dioksida dan nitrogen oksida.

Sebagai bagian dari upaya keseluruhan dalam memenuhi target nasional dan menyeimbangkan kembali perekonomian dari dampak COVID-19, dalam lima bulan pertama tahun 2021, China menaikkan obligasi hijau dengan nilai total US$26,1 miliar untuk mendukung proyek energi bersih dan terbarukan. Ini lebih dari dua kali lipat nilai periode yang sama pada tahun 2020.

Pelaku pertambangan di Cina mengambil keuntungan penuh. Pada bulan April, Zijin Mining Group menerbitkan obligasi netralisasi karbon pertama di antara para penambang logam mulia Cina dan berjanji untuk menggunakan dana sebesar US$46 juta dialokasikan ke fasilitas pembangkit listrik fotovoltaik.

Chinalco mengikutinya pada bulan Juni dengan menerbitkan obligasi hijau senilai US$62 juta untuk mendukung proyek pembangkit listrik tenaga anginnya. Pada bulan Juli, China Molybdenum Co (CMOC) menerbitkan obligasi hijau senilai US$23 juta untuk membiayai peningkatan fakultas yang ada untuk menurunkan emisi.

Meningkatkan daur ulang dan pemanfaatan besi tua adalah fokus utama lainnya. Menurut CNMIA, China telah mengonsumsi 700 juta ton logam non-ferrous sejak 1950-an, dan scrapping logam kini telah memasuki periode puncak.

CNMIA memperkirakan pada tahun 2025 output dari daur ulang logam saja akan mencapai 20 juta ton, termasuk 4 juta ton tembaga daur ulang, 11,5 juta ton aluminium daur ulang, 3 juta ton timah daur ulang, dan 1,5 juta ton seng daur ulang, yang selanjutnya akan berkontribusi untuk tujuan pengurangan karbon dan membantu memenuhi permintaan pasar.

Diharapkan secara luas bahwa sektor peleburan aluminium dan baja akan dimasukkan dalam skema perdagangan emisi karbon (ETS) nasional pada periode FYP ke-14.

 

Penulis: Edo Fernando

Editor: Umar RP.

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar