image

"Publikasi Webinar Pengelolaan Air Asam Tambang dengan Pemodelan Hidrologi"
Sumber gambar: Dokumen Dunia Tambang dan IPB Training

Dunia Tambang / 21 September 2021 / 0 Komentar

K3 & Lingkungan Air Asam Tambang 

Pengelolaan Air Asam Tambang dengan Permodelan Hidrologi

duniatambang.co.id - Dunia Tambang bekerja sama dengan IPB Training mengadakan webinar dengan tema “Pengelolaan Air Asam Tambang dengan Permodelan Hidrologi” pada Rabu (15/09/2021). Webinar ini mengundang dua narasumber yang ahli dibidangnya, yaitu Dr. I Putu Santikayasa, Dosen Geofisika dan Meteorologi Universitas IPB yang ahli dalam bidang permodelan hidrogeologi, klimatologi, GIS/RS untuk meteorology tarapan, hidrometeorologi, dan analisis sistem hidrologi, dan narasumber kedua yaitu Madaniyah, M.Si selaku Environmental specialist, PT Sampulu Adijaya Prakarsa.

Air Asam Tambang (AAT) merupakan permasalahan yang sulit dihindari karena proses terjadinya dapat secara alami akibat oksidasi mineral sulfila yang terpajan (exposed) di udara dengan kehadiran air dan mikroorganisme.. Air asam tambang sendiri memiliki tingkat keasaman yang tinggi dengan nilai pH rendah dibawah 5 (lima).

Kedua narasumber menjelaskan mengenai deskripsi umum AAT yang kemudian dapat dikelola lebih lanjut melalui permodelan hidrologi. Permodelan hidrologi sendiri digunakan sebagai referensi untuk mencegah atau mengurangi pembentukan dan dampak dari AAT. Permodelan ini biasanya dilakukan sebelum adanya aktifitas pertambangan, namun jika AAT terbentuk saat proses eksploitasi tambang, maka akan dilakukan beberapa cara untuk mengurangi AAT tersebut dan mengurangi dampak yang dihasilkan, karena setelah tahap pasca tambang, keadaan hidrologi di sekitar tambang harus sudah sesuai dengan baku mutu lingkungan sebelum dilepaskan ke badan perairan alami. Pengendalian AAT ini harus dilakukan sebagai tanggung jawab pengampuh terhadap lingkungan dan sebagai jaminan reklamasi.

Dr. I Putu Santikayasa, dalam presentasinya menjelaskan bahwa dalam penanganan AAT sendiri, Putu mengatakan bahwa terdapat dua acara, yaitu secara aktif dan pasif. Cara aktif dilakukan dengan menggunakan bahan kimia atau bahan lainnya, sedangkan dengan cara pasif, yaitu dengan wetland, openlimestone channel, dan metode lainnya. Sementara untuk permodelan hidrologi, terdapat beberapa tipe model yang sangat tergantung pada tujuan serta cakupan permasalahannya yang terbagi menjadi Lumped Model, Semi-Distributed Model, dan Distributed Model. Namun perlu diingat, model hidrologi ini sendiri hanya merupakan gambaran atau representasi sederhana dari sistem sesungguhnya, sehingga hanya dibatasi oleh sifat tertentu yang kadang kala dapat berbeda dari keadaan sebenarnya.

Salah satu model hidrologi tersebut adalah SWAT (Soil and Water Assesment Tool) yang termasuk tipe semi lumped model. Model ini menganalisis respon permukaan terhadap curah hujan dengan pendekatan Hydrological Response Unit (HRU), yaitu area dari suatu wilayah yang memiliki respon yang sama terhadap input data cuaca. Putu menjelaskan bahwa model SWAT ini mampu mengevaluasi dampak dari perubahan lahan, mampu memprediksi perubahan yang terjadi pada tanah, lahan dan pengelolaan pada debit dan kualitas air, dapat memodelkan proses hidrologi pada suatu DAS, dan dapat memberikan kemampuan simulasi yang cukup cepat dengan pendekatan komputasi efisien. Adapun data yang diperlukan adalah jenis tanah, data elevasi, penggunaan lahan, data cuaca dan manajemen seperti rotasi pertanaman, fertilizer, dan wetland management.

Madaniyah, M.Si, selaku environment specialist, pada kesempatan yang sama menjelaskan terdapat 2 tahap pencegahan pembentukan AAT, yaitu karakteristik batuan dan pengelolaan overburden (OB management plan). Karakteristik batuan untuk mengetahui apakah batuan yang akan digali pada saat penambangan  akan terpapar oleh udara berpotensi membentuk asam (Potentially Acid Forming/ PAF) atau batuan yang tidak berpotensi membentuk asam (Non – Acid Forming/ NAF). Sementara dalam pengelolaan overburden, metode yang umum diterapkan dalam penimbunan OB adalah encapsulation dan layering, yaitu dengan menempatkan material PAF dan NAF sedemikan rupa untuk menghindari terjadinya pembentukan AAT.

Sementara dalam pengelolaannya, terbagi menjadi 2 cara, yaitu active treatment, dengan menambahkan kapur kedalam void, dan pasive treatment, dengan memanfaatkan proses kimia dan biologi di alam seperti lahan basah buatan (Constructed Wetland), saluran anoksik batukapur (Anoxic Limestone Drain/ ALD), sistem aliran vertikal, dan saluran terbuka batukapur.

Sebagai contoh passive treatment, konsep lahan basah buatan sama dengan konsep rawa, di mana lahan selalu tergenang namun tidak terlalu dalam dan membutuhkan bahan organic berupa gravel, batukapur, dan kompos. Tanaman yang digunakan adalah Typha agustifolia yang berfungsi menaikkan pH dan menyerap logam berat.

Madaniyah juga menjelaskan bahwa pemodelan hidrologi ini sangat penting dalam penglolaan AAT karena untuk memprediksi kualitas dan kuantitas aliran air dalam pendekatan daerah tangkapan. Pendekatan pengelolaan AAT melalui permodelan hidrologi dapat memprediksi aspek perubahan hidrologi pada pit penambangan sehingga upaya preventif pengelolaan AAT dapat direncanakan sebelum penambangan dimulai.

 

Penulis: Yuniar Novianti

Editor: Umar RP.

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar