Loading...
image

"Publikasi Webinar Bagaimana Nasib PLTU 2025?"
Sumber gambar: Dokumen Pamerindo Indonesia dan Dunia Tambang

Dunia Tambang / 9 September 2021 / 0 Komentar

Energi PLTU 

Bagaimana Nasib PLTU 2025?

duniatambang.co.id - Webinar Mining Talk yang diselenggarakan oleh Pamerindo Indonesia dan Dunia Tambang mengangkat tema seputar Pembangkit Listrik Tenaga Uap pada Tahun 2025 mendatang. Webinar dengan topik “Bagaimana Nasib PLTU 2025?” yang dilaksanakan pada pada Hari Rabu (8/9/2021) ini, mengundang dua narasumber yang ahli di bidang energi, yaitu Singgih Widagdo, selaku Kepala Indonesian Mining dan Energy Forum (IMEF) dan Dr. Ir. Herman Daniel Ibrahim, M.Sc., selaku Anggota Dewan Energi Nasional Indonesia.

Kedua narasumber tersebut membahas mengenai gambaran nasib batubara dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini pastinya sangat dipengaruhi oleh konsumsi batubara secara internasional, terutama China dan India sebagai salah satu pengguna batubara terbesar saat ini. Pemerintah China sudah menyampaikan komitmennya untuk meningkatkan konsumsi batubara dalam 5 tahun kedepan, sehingga berdampak pada harga batubara dunia. Namun, China akan mengurangi penggunaan energi fosil batubara tersebut dalam 5 tahun setelahnya. Begitu juga dengan India yang menargetkan pembangunan 450 Gigawatt pada Tahun 2030 mendatang.

Dalam kesempatan yang sama, Singgih Widagdo, selaku Kepala Indonesian Mining dan Energy Forum (IMEF), menjelaskan akan kebutuhan PLN yang diproyeksikan akan terus meningkat hingga tahun 2030, di mana pada tahun 2025 mendatang PLN membutuhkan setidaknya 126 juta ton sebagai bahan bakar PLTU. Namun dengan tuntutan dunia dalam mengurangi emisi gas yang sejalan dengan Paris Agreement, maka Indonesia akan turut mencari upaya dalam pengurangan penggunaan batubara sebagai  sumber energi. Sehingga pada tahun 2060 mendatang, PLN berkomitmen akan merealisasikan penggunaan energi hidrokarbon. Adapun rencana arah PLTU batubara PLN akan membutuhkan sekitar 196 juta ton batubara sebelum akhirnya beralih ke energi yang lebih bersih. Rencana PLN mempensiunkan PLTU secara bertahap tersebut akan sampai di tahun 2055 dengan total 49 Gigawatt dengan pengurangan hingga 200 juta ton di tahun 2055 mendatang.

Sebagai informasi, sampai sekarang energi fosil masih menjadi primadona di sebagian negara dunia sebagai bahan bakar untuk PLTU, termasuk batubara yang memiliki harga relatif lebih murah. Menurut Ember’s, Global Electriciy Review 2021, secara global, penggunaan energi fosil mencapai 61% dan sisanya terdiri dari energi nuklir, hidro, bio energi, tenaga angin dan tenaga surya, di mana Afrika Selatan, India, dan China menempati urutan pertama dalam penggunaan batubara untuk kelistrikan.

Dengan adanya komitmen dari berbagai negara, terutama China dan India, Singgih menyampaikan bahwa hal ini tentunya harus menjadi perhatian pemerintah, di mana diketahui bahwa 54% dari ekspor batubara Indonesia didominasi oleh China dan India. Pemerintah diharapkan harus lebih mengamati critical year pada tahun 2025 yang akan berdampak pada ekspor batubara, sehingga akan turut memengaruhi sektor pertambangan nasional.

Sedangkan menurut Herman Daniel Ibrahim, selaku Anggota Dewan Energi Nasional Indonesia, menyatakan bahwa dalam skala global, Indonesia masih terbilang lebih kecil dalam menyumbangkan emisi gas dari penggunaan energi batubara. Maka dari itu dibutuhkan upaya yang jelas dan terintegrasi untuk mencapai Net Zero Emission tersebut. Hal ini didasari dengan kesiapan Indonesia dalam melepas batubara untuk kelistrikan sangatlah riskan. Di mana terdapat beberapa faktor penting kenapa kita masih menggunakan batubara sebagai bahan bakar PLTU, yaitu seperti biaya produksi yang murah, sumber energi yang berlimpah sehingga pasokan energi primer tercukupi, teknologi yang memungkinkan untuk skala besar, penempatan lokasi yang fleksibel, dan biaya investasi pembangunan yang tidak mahal.

Herman menekankan bahwa Indonesia harus memiliki skenario yang jelas dan terarah, sehingga dapat mengurangi adanya dampak negatif yang akan dirasakan saat pemerintah dan industri dalam negeri beralih ke Energi Baru Terbarukan (EBT). Saat penggunaan batubara ditekan, maka akan berdampak pada harga listrik yang akan meningkat, hal tersebut akan memaksa pemerintah untuk memberikan pendanaan lebih ke sektor kelistrikan nasional.

Jika berkaca dari komitmen China yang akan mengurangi penggunaan batubara pada tahun 2025 yang akan transisi ke tenaga angin dan tenaga surya, maka jika Indonesia ingin beralih ke energi yang sama, pemerintah harus menyiapkan cadangan energi yang tidak terpengaruh oleh kondisi cuaca atau iklim untuk menghindari kurangnya pasokan energi, mengingat penggunaan tenaga nuklir akan meningkatkan biaya hingga 2 kali lipat dari harga batubara.

Menurutnya, salah satu cara strategi paling tepat yaitu dengan memaksimalkan penggunaan EBT tanpa harus menyingkirkan batubara secara dominan. Karena dengan berkembangnya penggunaan EBT, maka penggunaan batubara akan berkurang secara sendirinya. Herman juga berpendapat bahwa untuk Indonesia yang paling realistis dalam mencapai Net Zero Emission yaitu pada tahun 2070. Hal itu pun tidak akan mudah dicapai, karena masih harus menyediakan energi listrik dari sumber energi terbarukan yang sangat besar secara eksponensial.

Memiliki lingkungan yang bersih dan dunia yang terbebas dari emisi gas merupakan impian seluruh masyarakat global. Dengan menggunakan energi bersih untuk segala sektor industri, maka kita dapat memperbaiki kerusakan alam yang telah ditimbulkan hingga sekarang ini. Namun peralihan energi tersebut sangat sulit untuk dilakukan, mengingat banyaknya negara yang telah ketergantungan dengan energi fosil, terutama batubara yang memiliki kelebihan tersendiri. Namun dengan adanya kerja sama dari berbagai pihak dalam melakukan upaya, strategi, dan komitmen yang jelas, maka transisi energi tersebut akan sangat mungkin dilakukan walaupun memakan waktu puluhan tahun lamanya.

 

Penulis: Yuniar Novianti

Editor: Ocky PR.

Tinggalkan Komentar

Hanya nama dan komentarmu yang akan ditampilkan. Login diperlukan untuk meninggalkan komentar